Indonesia menghadapi tekanan biaya industri tempe akibat ketergantungan impor kedelai
Ketergantungan tinggi pada kedelai impor terus menekan stabilitas biaya bagi perajin tempe di Indonesia di tengah gejolak ekonomi global dan pergerakan nilai tukar rupiah. Kondisi ini memperbesar kerentanan usaha kecil karena pasokan domestik belum cukup untuk meredam kenaikan harga bahan baku.
Sorotan
- Lebih dari 85 persen kebutuhan kedelai Indonesia, sekitar 2,6-2,7 juta ton per tahun, masih bergantung pada impor di tengah pelemahan rupiah ke level Rp 17.000 per USD.
- Kenaikan harga energi dunia dan logistik akibat disrupsi geopolitik menaikkan biaya pengiriman, memperparah tekanan biaya bagi industri berbasis kedelai seperti tempe dan tahu.
- Biaya bahan baku, termasuk plastik kemasan berbasis resin yang naik mengikuti ICP di atas 100 U.S. dollar per barel, kini mencapai 60-70 persen dari total biaya produksi UMKM tempe.
Struktur pasokan dan tekanan biaya bahan baku
Seperti dilaporkan Kompas.com, pakar ekonomi M Rizal Taufikurahman menjelaskan kebutuhan kedelai nasional saat ini mencapai sekitar 2,6 juta hingga 2,7 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya memenuhi sekitar 200 ribu hingga 300 ribu ton. Dengan komposisi itu, lebih dari 85 persen pasokan bergantung pada impor, sehingga pelemahan rupiah, termasuk ketika bergerak di kisaran Rp 17.000 per USD, langsung mendorong kenaikan biaya bahan baku di pasar domestik.Ia menilai industri berbasis kedelai, termasuk tempe dan tahu, sangat bergantung pada dinamika pasar global. Kenaikan harga energi dunia ikut mendorong biaya logistik dan pengiriman, sementara rantai pasok global masih belum sepenuhnya efisien setelah disrupsi geopolitik.
Dampak bagi UMKM pengrajin tempe
Selain kedelai, kenaikan harga bahan pendukung produksi seperti plastik kemasan juga menambah tekanan pada pelaku usaha kecil. Rizal mengatakan plastik berbasis resin yang berasal dari minyak bumi ikut naik seiring Indonesian Crude Price, ICP, menembus lebih dari 100 U.S. dollar per barel.Menurut dia, biaya kemasan yang kerap dianggap kecil tetap memberi dampak berarti secara akumulatif bagi UMKM. Ia menambahkan kenaikan biaya bahan baku yang mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi membuat margin usaha perajin tempe semakin tertekan dan mempersempit ruang bertahan sektor ini.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang kenaikan harga kedelai impor di Cilincing, kami mengulas bagaimana lonjakan harga dari Rp 9.600 menjadi Rp 10.800 per kilogram menambah beban modal harian perajin tempe. Kami juga menyoroti bahwa ketergantungan impor di atas 85% membuat pelaku usaha sangat rentan terhadap pelemahan rupiah, ditambah tekanan dari kenaikan energi, ongkos distribusi, dan rantai pasok global yang belum stabil.
Berita Local Business Terbaru
- Forex
- Crypto