Bizhare perluas pendanaan ESG di sektor energi dan sosial hingga Rp8,3 miliar

Bizhare perluas pendanaan ESG di sektor energi dan sosial hingga Rp8,3 miliar
Bizhare dorong ESG energi

Pendanaan berbasis ESG di platform urun dana mulai menunjukkan ruang pertumbuhan di Indonesia, terutama pada proyek yang menggabungkan potensi imbal hasil dengan dampak sosial dan lingkungan. Sepanjang 2025 hingga 2026, Bizhare memfasilitasi pendanaan Rp8,30 miliar dari 720 investor untuk proyek energi dan sosial.

Sorotan

  • Bizhare menyalurkan pendanaan ESG sebesar Rp8,3 miliar ke proyek SWAP Station dan dapur SPPG, didukung 484 dan 236 investor.
  • Pendanaan Rp6,04 miliar difokuskan untuk infrastruktur penukaran baterai motor listrik di Jakarta dan Tangerang, mendukung ojek online.
  • Rata-rata tiket investasi ESG lebih tinggi, dengan prospek pertumbuhan jangka panjang didorong inovasi, regulasi, dan perubahan preferensi investor.

Penyaluran dana ESG pada proyek energi dan sosial

KONTAN melaporkan, PT Investasi Digital Nusantara, pengelola platform Bizhare, menyalurkan total pendanaan tersebut ke proyek SWAP Station bersama SWAP Energi serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, atau SPPG, untuk program Makan Bergizi Gratis.

Di sektor energi, perusahaan membuka beberapa batch pendanaan SWAP Station di Jakarta dan Tangerang. Tiga batch proyek itu menghimpun sekitar Rp6,04 miliar dari 484 investor dan ditujukan untuk mendukung pengemudi ojek online melalui infrastruktur penukaran baterai motor listrik.

Pada sektor sosial, pendanaan dapur SPPG atau MBG mencapai sekitar Rp2,26 miliar dari 236 investor. Proyek ini disebut berkontribusi pada peningkatan gizi masyarakat sekaligus mendorong pemberdayaan rantai pasok lokal.

Founder dan CEO Bizhare Heinrich Vincent mengatakan tren pendanaan bertema ESG di platform tersebut bergerak positif, terutama untuk proyek dengan fundamental keberlanjutan yang konkret dan terukur. Ia menilai karakteristik sektor ESG berbeda dari sektor konvensional seperti F&B dan ritel, karena investor di segmen ini cenderung memiliki orientasi tujuan yang lebih kuat dan horizon investasi yang lebih panjang.

Prospek pasar dan risiko bagi industri urun dana

Menurut Heinrich, pendanaan ESG masih berada dalam fase pertumbuhan, tetapi memiliki prospek jangka panjang yang baik karena ditopang inovasi yang nyata. Ia menambahkan rata-rata tiket investasi pada proyek ESG juga lebih besar, khususnya untuk instrumen berbasis saham.

Pada instrumen obligasi dan sukuk, proyek ESG dengan offtaker yang jelas dan model bisnis teruji dinilai mampu menarik dana lebih cepat. Kondisi itu terjadi karena investor tidak hanya mempertimbangkan potensi imbal hasil finansial, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan.

Bizhare memandang ESG di Indonesia bukan sekadar tren jangka pendek, melainkan bergerak menuju fase yang lebih matang seiring dukungan regulasi, kebutuhan pasar, dan perubahan preferensi investor. Namun perusahaan juga menyoroti risiko operasional, adopsi pasar, regulasi, dan teknologi, sehingga transparansi serta pengelolaan risiko tetap menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pendanaan baru PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) senilai sekitar Rp1,3 triliun, kami membahas upaya perusahaan memperbesar kapasitas pembiayaan infrastruktur berkelanjutan melalui sumber dana yang terdiversifikasi. Laporan itu menyoroti bagaimana struktur pendanaan yang lebih efisien dapat menurunkan biaya dana, membuat suku bunga pembiayaan lebih kompetitif, serta memperkuat dukungan bagi proyek-proyek yang sejalan dengan target Net Zero Emissions 2060 dan pengembangan instrumen seperti obligasi maupun sukuk.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.