BNI catat pertumbuhan kredit 20,1% pada kuartal I-2026, laba naik 5%
Di tengah perlambatan pertumbuhan kredit industri perbankan, PT Bank Negara Indonesia Tbk mencatat ekspansi pinjaman yang jauh melampaui rata-rata pasar pada kuartal I-2026. Kinerja itu ikut mendorong pemulihan profitabilitas, meski kenaikan beban bunga dan impairment masih membatasi laju pertumbuhan laba.
Sorotan
- BNI mencatat pertumbuhan kredit 20,1% yoy menjadi Rp 919,3 triliun pada kuartal I-2026, jauh melampaui rata-rata industri perbankan sebesar 9,5%.
- Laba bersih BNI naik 5% menjadi Rp 5,6 triliun didukung pendapatan bunga bersih naik 12,1% menjadi Rp 11 triliun meski beban impairment melonjak 26,5%.
- Dana pihak ketiga naik 34,21% menjadi Rp 1.100,5 triliun pada kuartal I-2026, didorong giro naik 39,7% dan tabungan tumbuh 10,4%.
Kinerja kredit dan pendapatan kuartal I-2026
KONTAN melaporkan, kredit BNI tumbuh 20,1% secara tahunan menjadi Rp 919,3 triliun pada kuartal I-2026, lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit industri perbankan yang menurut Bank Indonesia mencapai 9,5% per Maret 2026. Sepanjang kuartal I-2026, pertumbuhan kredit industri masih bertahan di kisaran 9%, melambat dari kisaran 10% pada tahun sebelumnya.
Merujuk laporan keuangan perseroan, kredit individual mencapai Rp 70 triliun atau naik 5,6% secara tahunan, sedangkan kredit kolektif sebesar Rp 849,3 triliun atau tumbuh 22,4%. Seiring ekspansi itu, pendapatan bunga naik 13,7% menjadi Rp 18,9 triliun, sementara beban bunga meningkat 15,9% menjadi Rp 7,9 triliun, sehingga pendapatan bunga bersih naik 12,1% menjadi Rp 11 triliun.
Dari sisi operasional, pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi tumbuh 8,9% menjadi Rp 2,6 triliun. Namun, beban impairment naik 26,5% menjadi Rp 2 triliun, sehingga laba operasional hanya meningkat 5,4% menjadi Rp 6,9 triliun dan laba bersih naik 5% menjadi Rp 5,6 triliun.
Dana murah menopang intermediasi
Di sisi penghimpunan dana, BNI membukukan dana pihak ketiga sebesar Rp 1.100,5 triliun, naik 34,21% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh giro yang melonjak 39,7% menjadi Rp 446,9 triliun serta tabungan yang naik 10,4% menjadi Rp 284,7 triliun.Kenaikan dana murah memberi ruang bagi bank untuk menjaga intermediasi di tengah perlambatan industri. Meski demikian, data tersebut juga menunjukkan penyesuaian suku bunga dan kenaikan biaya pencadangan masih menjadi faktor yang menahan pertumbuhan profitabilitas BNI pada awal 2026.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja BNI pada kuartal I-2026, kami mengulas laba bersih Rp5,6 triliun yang ditopang pertumbuhan kredit 20,1% dan penguatan dana murah (CASA) di tengah tekanan ketidakpastian global. Kami juga menyoroti langkah BNI menerbitkan instrumen Additional Tier-1 senilai USD700 juta pada April 2026 untuk memperkuat permodalan, serta dorongan transformasi BRAVE yang mempercepat pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana.
Berita Reporting Terbaru
- Forex
- Crypto