BRI catat laba bersih Rp15,5 triliun pada kuartal I-2026, ditopang kredit dan pendapatan bunga
Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk pada awal 2026 menunjukkan penguatan profitabilitas di tengah pertumbuhan intermediasi dan likuiditas yang tetap terjaga. Pada kuartal I-2026, bank ini juga membukukan perbaikan kualitas aset, dengan rasio kredit bermasalah dan Loan at Risk yang sama-sama menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Sorotan
- BRI dan entitas anak mencatat laba bersih Rp15,5 triliun pada kuartal I-2026, naik 13,7% secara tahunan didukung kenaikan pendapatan bunga dan kredit.
- Total kredit tumbuh 13,68% menjadi Rp1.562 triliun dengan segmen UMKM berkontribusi Rp1.211 triliun dan dana pihak ketiga naik 9,4% menjadi Rp1.555 triliun.
- Kualitas aset membaik dengan rasio Loan at Risk turun ke 9,7%, NPL 3,01%, biaya dana turun ke 2,3%, dan total aset tembus Rp2.250 triliun.
Pertumbuhan laba dan penyaluran kredit
KONTAN Indonesia melaporkan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk beserta entitas anak usahanya membukukan laba bersih Rp15,5 triliun pada kuartal I-2026, naik 13,7% dibandingkan Rp13,67 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Kenaikan laba terutama ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp40,155 miliar, tumbuh 11,9% secara tahunan. Dari sisi intermediasi, total kredit BRI mencapai Rp1.562 triliun atau naik 13,68% secara tahunan, dengan segmen UMKM tetap menjadi penopang utama melalui penyaluran sebesar Rp1.211 triliun.
Direktur Utama BRI Hery Gunadi mengatakan secara keseluruhan perseroan tidak hanya bertumbuh, tetapi juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan. Pernyataan itu disampaikan dalam paparan kinerja pada Kamis, 30 April 2026.
Perbaikan kualitas aset dan likuiditas
Kualitas kredit BRI membaik pada kuartal I-2026. Rasio Loan at Risk turun menjadi 9,7% dari 11,1% setahun sebelumnya, sementara rasio non-performing loan berada di level 3,01%, lebih baik dari posisi Desember 2025 sebesar 3,07%.Perseroan juga menjaga ketahanan pencadangan risiko, tercermin dari rasio LAR Coverage di kisaran 55% dan rasio NPL Coverage hampir 180%. Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga mencapai Rp1.555 triliun, tumbuh 9,4% secara tahunan, didukung dana murah atau CASA sebesar Rp1.058,6 triliun yang naik 13,2%.
Biaya dana turun menjadi 2,3% dari sebelumnya 3%, sedangkan rasio loan to deposit berada di level 87%, sedikit lebih tinggi dari 86,58% pada periode yang sama tahun 2025. Total aset BRI tercatat Rp2.250 triliun, naik 7,2% dari Rp2.098,2 triliun setahun sebelumnya, dengan ROA di level 2,8% dan ROE sebesar 18,4%.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang perbedaan kinerja bank besar pada kuartal I-2026, kami menyoroti bagaimana bank-bank BUMN (Himbara) cenderung melesat berkat akses ke program strategis pemerintah, sementara bank swasta bergerak lebih moderat di tengah pelemahan ekonomi dan risiko kualitas aset. Ulasan tersebut juga membahas tekanan biaya dana dan beban impairment yang beragam, yang dinilai dapat membatasi pertumbuhan laba industri perbankan sepanjang 2026.
Berita Centralbanks Terbaru
- Forex
- Crypto