OJK mencatat pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan tumbuh pesat hingga Rp 12,81 triliun

OJK mencatat pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan tumbuh pesat hingga Rp 12,81 triliun
BNPL tumbuh pesat 2026

Penyaluran pembiayaan buy now pay later, atau BNPL, oleh perusahaan pembiayaan terus menunjukkan ekspansi kuat pada awal 2026 di tengah pengawasan risiko kredit yang masih terjaga. Per Februari 2026, nilainya mencapai Rp 12,81 triliun, sementara pertumbuhan tahunan tetap tinggi meski lajunya mulai lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Sorotan

  • OJK mencatat pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 55,85% yoy menjadi Rp 12,81 triliun per Februari 2026.
  • Laju pertumbuhan BNPL melambat, dari 71,13% yoy pada Januari 2026 menjadi 53,53% yoy dengan nilai Rp 12,59 triliun per Februari 2026.
  • Rasio NPF gross BNPL turun ke 2,51% per Maret 2026 dari 2,79% pada Januari 2026, menandakan risiko kredit membaik dan tetap aman.

Pertumbuhan pembiayaan dan kualitas kredit

Seperti dilaporkan KONTAN, Otoritas Jasa Keuangan, atau OJK, mencatat nilai pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp 12,81 triliun per Februari 2026. Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK Agusman menyatakan pembiayaan tersebut tumbuh 55,85% secara tahunan dalam konferensi pers RDK OJK pada Selasa, 5 Mei 2026.

Secara tren, OJK juga mencatat pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 53,53% secara tahunan menjadi Rp 12,59 triliun per Februari 2026. Meski tetap meningkat, laju pertumbuhannya mulai melambat dibandingkan Januari 2026 yang tercatat tumbuh 71,13% secara tahunan dengan nilai Rp 12,18 triliun.

Dari sisi kualitas aset, rasio non performing financing, atau NPF, gross BNPL perusahaan pembiayaan per Maret 2026 berada di level 2,51%. Angka itu membaik dari posisi Januari 2026 yang sebesar 2,79%, sehingga risiko kredit dinilai masih berada dalam batas aman.

Dampak bagi industri pembiayaan Indonesia

Kenaikan penyaluran BNPL menunjukkan segmen pembiayaan konsumtif digital masih menjadi pendorong pertumbuhan bagi industri multifinance di Indonesia. Namun, perlambatan laju pertumbuhan bulanan mengindikasikan pasar mulai bergerak ke fase yang lebih moderat setelah lonjakan tinggi pada awal tahun.

Bagi industri pembiayaan, kombinasi pertumbuhan dua digit tinggi dan perbaikan rasio kredit bermasalah memberi ruang bagi perusahaan untuk menjaga ekspansi secara lebih selektif. Pengawasan kualitas pembiayaan tetap menjadi faktor penting agar pertumbuhan BNPL tidak menambah tekanan risiko di tengah meningkatnya pemakaian layanan paylater.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang pertumbuhan BNPL (paylater) perbankan pada kuartal I-2026, kami mencatat baki debet BNPL bank mencapai Rp 28,3 triliun atau naik 24,2% secara tahunan, dengan 30,81 juta rekening pengguna. Artikel itu juga menyoroti strategi sejumlah bank dalam memperluas produk paylater sebagai sumber pertumbuhan kredit ritel digital, sembari menekankan pentingnya menjaga kualitas aset karena BNPL termasuk kredit tanpa agunan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.