Indonesia percepat diversifikasi energi di tengah gangguan pasokan global

Indonesia percepat diversifikasi energi di tengah gangguan pasokan global
Diversifikasi energi Indonesia

Ketidakpastian pasokan energi global mendorong Indonesia mempercepat langkah penguatan ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber. Pemerintah menyiapkan tiga agenda utama, yakni pembangunan PLTS 100 gigawatt, peningkatan mandatori biodiesel menjadi 50%, dan perluasan penggunaan kendaraan listrik.

Sorotan

  • Pemerintah Indonesia mempercepat diversifikasi energi, termasuk pembangunan PLTS 100 gigawatt dan mandatori biodiesel 50%, untuk kurangi risiko gangguan pasokan global.
  • Bahlil Lahadalia menyatakan diversifikasi energi dan penggunaan alternatif non-fosil jadi prioritas agar ekonomi tetap stabil saat komoditas sulit diperoleh.
  • Presiden Prabowo menegaskan ASEAN perlu strategi proaktif untuk ketahanan energi kawasan guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan berkepanjangan.

Agenda pemerintah untuk kurangi ketergantungan impor

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dalam keterangan resmi yang disampaikan Bahlil Lahadalia pada Sabtu, 9 Mei 2025, menyebut diversifikasi energi menjadi kunci untuk menghadapi krisis energi yang sedang melanda dunia. Bahlil mengatakan gangguan rantai pasok energi dapat berdampak luas terhadap perekonomian suatu negara, sehingga Indonesia perlu memastikan ketersediaan sumber energi alternatif saat satu komoditas sulit diperoleh.

Ia menyatakan Indonesia memiliki banyak sumber energi alternatif selain fosil yang dinilai strategis bagi ketahanan energi. Karena itu, pemerintah memprioritaskan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 100 gigawatt, peningkatan mandatori biodiesel yang akan segera dinaikkan menjadi 50%, serta peningkatan penggunaan kendaraan listrik.

Dampak bagi ketahanan energi kawasan

Langkah tersebut ditempatkan sebagai bagian dari upaya mencapai ketahanan dan kemandirian energi nasional di tengah kondisi pasar global yang tidak menentu. Diversifikasi dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi ketika terjadi gangguan pasokan berkepanjangan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menyampaikan negara-negara ASEAN harus siap menghadapi potensi gangguan pasokan energi yang dapat berlangsung lama. Menurutnya, ketahanan energi kawasan tidak bisa dibangun secara reaktif, tetapi perlu dipersiapkan secara proaktif melalui pendekatan yang jelas dan berorientasi ke depan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang agenda diversifikasi energi Indonesia di KTT ASEAN ke-48 di Cebu, kami membahas bagaimana pemerintah menempatkan bauran energi sebagai langkah untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasar global. Kami juga menyoroti prioritas yang disiapkan, mulai dari pembangunan PLTS 100 gigawatt, kenaikan mandatori biodiesel hingga 50%, sampai percepatan pemanfaatan kendaraan listrik untuk memperkuat resiliensi pasokan di kawasan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.