Saham bank besar Indonesia menguat sepekan, BBNI dinilai menarik

Saham bank besar Indonesia menguat sepekan, BBNI dinilai menarik
Saham bank menguat tajam

Di tengah pergerakan IHSG yang masih terbatas pada pekan yang berakhir 8 Mei 2026, saham bank-bank berkapitalisasi besar justru mencatat kenaikan lebih kuat dibandingkan indeks acuan. Penguatan ini muncul meski secara harian sektor perbankan masih terkoreksi, dengan BBRI memimpin kenaikan mingguan di antara saham big banks.

Sorotan

  • Pada penutupan 8 Mei 2026, saham BBRI naik 9,03% ke Rp 3.260, BBCA naik 5,56% ke Rp 6.175, BMRI naik 5,47% ke Rp 4.630, dan BBNI naik 3,76% ke Rp 3.860 dalam sepekan.
  • Penguatan saham perbankan didorong technical rebound akibat penurunan harga minyak, turunnya tekanan inflasi, dan momentum pembagian dividen.
  • BBNI dinilai menarik secara teknikal dan valuasi, dengan target jangka pendek-menengah Rp 4.300–4.400, namun risiko terkait pembiayaan program pemerintah tetap menjadi perhatian.

Pendorong penguatan dan pergerakan harga

KONTAN melaporkan, pada penutupan perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, IHSG berada di level 6.968,4 setelah melemah 2,86% secara harian, namun masih naik tipis 0,18% dalam sepekan. Di tengah pergerakan indeks yang cenderung terbatas, saham perbankan besar membukukan kenaikan lebih signifikan.

BBRI mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 9,03% dalam sepekan ke Rp 3.260. BBCA naik 5,56% ke Rp 6.175, BMRI menguat 5,47% ke Rp 4.630, dan BBNI bertambah 3,76% ke Rp 3.860.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai penguatan saham perbankan saat ini lebih mencerminkan technical rebound daripada pembalikan tren penuh. Menurut dia, rebound tersebut didorong kombinasi sentimen positif, termasuk penurunan harga minyak yang membantu meredakan kekhawatiran atas inflasi dan tekanan makroekonomi, serta momentum pembagian dividen yang kembali menarik minat investor ke saham bank besar.

Rekomendasi analis dan risiko sektor

Ke depan, Ekky menilai keberlanjutan penguatan saham perbankan masih sangat bergantung pada perkembangan sentimen pasar. Dari sisi valuasi, sejumlah saham bank dinilai sudah relatif murah setelah terkoreksi cukup dalam, sehingga peluang rebound menjadi lebih besar ketika sentimen positif muncul.

Namun, investor tetap perlu mencermati risiko domestik yang masih membayangi sektor perbankan. Salah satu perhatian datang dari kekhawatiran mengenai arah pembiayaan program prioritas pemerintah seperti MBG dan Kopdes, yang menurut Ekky menjadi salah satu faktor penekan persepsi investor asing terhadap sektor ini.

Untuk pilihan saham, Ekky menjagokan BBNI karena secara teknikal mulai menunjukkan perbaikan struktur harga dengan terbentuknya pola higher high. Ia menilai valuasi BBNI juga relatif murah dibandingkan bank besar lain, dengan target harga jangka pendek hingga menengah di kisaran Rp 4.300 sampai Rp 4.400, sementara strategi yang direkomendasikan adalah buy on weakness selama momentum rebound masih terjaga.

Pencairan dividen tunai BRI tahun buku 2025 sebelumnya kami soroti, termasuk pembayaran sisa dividen Rp209 per saham pada 8 Mei 2026 setelah dividen interim Januari, sehingga total dividen mencapai Rp346 per saham atau sekitar Rp52,1 triliun. Dalam ulasan itu, kami juga menekankan jadwal pembagian (termasuk recording date 22 April 2026) serta pesan manajemen tentang menjaga keseimbangan antara imbal hasil pemegang saham dan penguatan permodalan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.