BNI raih pendanaan US$700 juta lewat obligasi AT1 global
Langkah Bank Negara Indonesia di pasar modal internasional berlanjut melalui penerbitan instrumen modal tambahan yang memperkuat struktur permodalannya. Transaksi senilai US$700 juta itu juga menjadi bagian dari pengelolaan liabilitas menjelang opsi beli atas surat berharga AT1 yang masih beredar pada Maret 2027.
Sorotan
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menerbitkan obligasi Additional Tier 1 (AT1) global senilai US$700 juta dengan imbal hasil 7,15%.
- Penerbitan ini mencatat orderbook lebih dari US$2,5 miliar, 3,6 kali nilai emisi, mencerminkan minat investor internasional terhadap instrumen kredit Indonesia.
- Dana hasil emisi digunakan untuk memperkuat modal tambahan BNI, mendukung struktur permodalan, dan ekspansi kredit bank.
Struktur penerbitan dan peran BNI Sekuritas
Seperti diberitakan Kontan, PT BNI Sekuritas melalui anak usahanya di Singapura, BNI Securities Pte. Ltd. (BSPL), terlibat dalam penerbitan Additional Tier 1 (AT1) perpetual non-kumulatif milik PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai US$700 juta dengan imbal hasil 7,15%. Instrumen ini diterbitkan dengan skema Regulation S dan memenuhi ketentuan Basel III, menandai kelanjutan akses BNI ke pasar global setelah sebelumnya menjadi bank Indonesia pertama yang menerbitkan instrumen AT1 di pasar offshore pada 2021.Dalam transaksi tersebut, BSPL bertindak sebagai Joint Lead Manager dan Joint Bookrunner bersama pihak lain. Tugasnya mencakup koordinasi proses penerbitan, penyusunan struktur transaksi, dukungan pencatatan di Singapore Exchange, serta pemasaran kepada investor luar negeri.
SEVP Investment Banking BNI Sekuritas Ikhsan Ramdan mengatakan transaksi itu mendukung strategi pendanaan jangka panjang BNI. Ia menyatakan koordinasi dengan berbagai pihak membuat transaksi berjalan sesuai rencana di tengah kondisi pasar global yang masih berfluktuasi, berdasarkan siaran pers pada Senin, 11 Mei.
Permintaan investor dan dampak permodalan
Dari sisi permintaan, penerbitan ini mencatat orderbook lebih dari US$2,5 miliar, atau sekitar 3,6 kali nilai emisi. Capaian itu mencerminkan minat kuat investor internasional terhadap instrumen kredit Indonesia, khususnya penerbit dengan fundamental yang dinilai kuat.Penerbitan AT1 ini dilakukan bersamaan dengan penawaran tender harga tetap terbatas atas surat berharga AT1 BNI yang masih beredar. Dana bersih hasil emisi digunakan untuk memperkuat modal tambahan BNI, mendukung kebutuhan pendanaan, menjaga struktur permodalan, dan menopang ekspansi kredit.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan saham bank-bank besar di BEI, kami mengulas tekanan pada BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA pada sesi pertama perdagangan 11 Mei 2026, dengan penurunan terdalam pada BMRI yang memasuki ex date dividen. Ulasan itu juga menyoroti pandangan riset yang tetap overweight pada BMRI dan BBNI karena valuasi dinilai murah, imbal hasil dividen menarik, serta momentum laba yang konsisten.
Berita TRADE.com Terbaru
- Forex
- Crypto