Kementan dan TNI AL perluas pengembangan kedelai di Nganjuk untuk tekan impor
Ketergantungan Indonesia pada impor kedelai tetap tinggi pada 2026 ketika kebutuhan nasional diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton. Di tengah dorongan swasembada pangan, Kementerian Pertanian, TNI AL, dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk memperkuat kolaborasi produksi dengan dukungan benih, alat mesin pertanian, jaminan pasar, dan rencana perlindungan harga petani.
Sorotan
- Pada 2026, sekitar 95 persen kebutuhan kedelai nasional Indonesia atau 2,6 juta ton dari total 2,7 juta ton masih dipenuhi impor.
- Kementan, TNI AL, dan Pemkab Nganjuk mengembangkan 2.300 hektare lahan kedelai dengan estimasi hasil panen 3.400 ton dan distribusi 100 ton benih varietas Grobogan.
- Pemerintah menetapkan harga kedelai minimal Rp10.000 per kilogram dan mendorong Harga Pembelian Pemerintah hingga Rp13.500 per kilogram untuk meningkatkan margin petani.
Program pengembangan dan dukungan harga
Seperti disampaikan Kementerian Pertanian Indonesia, kolaborasi itu ditegaskan melalui panen kedelai bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Kabupaten Nganjuk pada Kamis, 15 Mei 2026. Pemerintah menempatkan kedelai sebagai komoditas strategis karena menjadi bahan baku utama tahu, tempe, dan produk olahan lain, sementara pasokan domestik masih tertinggal jauh dari kebutuhan nasional.Data Kementerian Pertanian menunjukkan sekitar 95 persen kebutuhan kedelai nasional pada 2026, atau 2,6 juta ton dari total 2,7 juta ton, masih dipenuhi dari impor. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata produksi nasional hanya sekitar 227 ribu ton per tahun, dengan luas tanam 136 ribu hektare dan produktivitas rata-rata 1,6 ton per hektare, sedangkan hingga April 2026 produksi tercatat 4.982 ton dari luas tanam 7.018 hektare.
Kerja sama pengembangan kedelai antara Kementan, TNI AL, dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk dimulai sejak awal tahun melalui penanaman 2.000 hektare di Kecamatan Rejoso, Wilangan, dan Bagor. Panglima TNI menyebut total kawasan pengembangan mencapai 2.300 hektare dengan estimasi hasil panen sekitar 3.400 ton.
Untuk menopang program itu, Kementan menyalurkan benih bersertifikat varietas Grobogan sebanyak 50 kilogram per hektare, atau total 100 ton, serta 20 unit traktor roda dua dan bajak singkal. Dukungan hilir juga diperkuat melalui nota kesepahaman dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia pada 5 Maret 2026, yang memberi jaminan pembelian hasil panen petani.
Kementan juga mendorong intervensi harga karena harga kedelai di tingkat petani masih berkisar Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Pemerintah menyatakan kedelai tidak boleh dibeli di bawah Rp10.000 per kilogram dan mendorong penetapan Harga Pembelian Pemerintah di kisaran Rp13.500 per kilogram agar margin petani lebih menarik.
Dampak bagi Jawa Timur dan model nasional
Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang dinilai paling potensial untuk meningkatkan produksi kedelai nasional. Dalam dua tahun terakhir, produksi kedelai provinsi itu rata-rata mencapai 54 ribu ton dengan luas tanam sekitar 28.100 hektare dan produktivitas 1,7 ton per hektare.Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra utama dengan produksi rata-rata 8 ribu ton dari luas tanam 3.249 hektare dan produktivitas 2,2 ton per hektare. Capaian itu memenuhi sekitar 72 persen kebutuhan kedelai daerah setempat dan menempatkan Nganjuk sebagai contoh daerah produktif yang dapat menopang pengurangan impor.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto menyatakan produktivitas kedelai di Nganjuk melampaui rata-rata nasional, sementara Panglima TNI menilai program tersebut perlu menjadi model gerakan nyata yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia. Di tingkat petani, Ketua Poktan Rukun Tani Desa Mudikan, Suwito, mengatakan bantuan benih dan dukungan pemerintah kembali mendorong minat tanam karena harga saat ini berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram dan lebih baik dibanding periode sebelumnya.
Pemerintah juga menyiapkan skema pembelian hasil produksi benih yang dikembangkan bersama jajaran TNI untuk kemudian dibagikan kembali kepada petani. Dengan kombinasi dukungan input, kepastian pasar, dan perlindungan harga, program di Nganjuk diarahkan menjadi pijakan percepatan swasembada kedelai nasional.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang penguatan cadangan beras nasional, kami mengulas klaim bahwa Indonesia kian mampu memenuhi kebutuhan beras tanpa bergantung pada impor, didukung stok Bulog yang menembus lebih dari 5 juta ton per pertengahan Mei 2026. Kami juga menyoroti bahwa penguatan stok dan tata kelola pangan dinilai berdampak pada stabilitas harga serta kesejahteraan petani, sekaligus menekan risiko kembali bergantung pada impor.
Berita Government Terbaru
- Forex
- Crypto