Saham bank besar Indonesia tertekan, analis sarankan akumulasi bertahap

Saham bank besar Indonesia tertekan, analis sarankan akumulasi bertahap
Saham bank besar tertekan

Tekanan pada saham perbankan berkapitalisasi besar berlanjut di tengah gejolak pasar dan penyesuaian portofolio investor asing setelah rebalancing MSCI Global Standard Index. Meski harga saham BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA melemah pada penutupan 13 Mei 2026, sejumlah analis masih melihat fundamental sektor ini solid untuk kuartal II-2026.

Sorotan

  • Pada penutupan 13 Mei 2026, saham BMRI turun 0,94% ke Rp 4.200, BBRI turun 3,1% ke Rp 3.120, BBNI turun 1,02% ke Rp 3.870, dan BBCA turun 0,41% ke Rp 6.100.
  • Tekanan jual terjadi akibat dampak tidak langsung rebalancing MSCI, pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 17.500 per dolar U.S., dan aksi net sell asing di BMRI (Rp 1,41 triliun sepekan) serta BBCA (Rp 245,9 miliar).
  • Analis menilai valuasi bank besar menarik untuk akumulasi bertahap, dengan target harga akhir Mei: BBCA Rp 8.350, BBRI Rp 3.670, BBNI Rp 4.520, BMRI Rp 5.650.

Tekanan pasar dan arus dana asing

KONTAN melaporkan tekanan pada saham bank besar terjadi meskipun emiten-emiten tersebut tidak keluar dari rebalancing MSCI Global Standard Index. Pada penutupan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, BMRI turun 0,94% ke Rp 4.200 dan terkoreksi 6,87% dalam sepekan, BBRI melemah 3,1% ke Rp 3.120, BBNI turun 1,02% ke Rp 3.870, sedangkan BBCA turun 0,41% ke Rp 6.100.

Arus dana asing menunjukkan pola yang tidak seragam di masing-masing saham. BBNI masih membukukan net buy asing Rp 4,11 miliar pada hari terakhir perdagangan dan Rp 44,59 miliar dalam sepekan, sementara BBRI mencatat net sell harian Rp 273,5 miliar meski secara mingguan masih net buy Rp 120,8 miliar.

Tekanan jual lebih dalam terlihat pada BMRI dengan net sell asing Rp 139,7 miliar dalam sehari dan Rp 1,41 triliun dalam sepekan. BBCA juga berada dalam tekanan dengan net sell asing Rp 245,9 miliar dalam sepekan.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan tekanan terhadap saham bank besar berkaitan dengan dampak tidak langsung rebalancing MSCI. Menurut dia, keluarnya sejumlah saham Indonesia, terutama dari sektor energi dan material, menurunkan bobot Indonesia dalam indeks global dan mendorong investor asing mengurangi eksposur, termasuk pada saham perbankan besar.

Selain faktor MSCI, pelemahan rupiah juga menjadi beban tambahan bagi sentimen pasar. Nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp 17.500 per dolar U.S. dinilai berpotensi menekan persepsi investor, terutama ketika beberapa bank besar mulai meningkatkan pencadangan pada kuartal I-2026.

Prospek sektor dan rekomendasi analis

Analis KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai fundamental bank-bank besar masih kuat dan berpotensi membaik pada kuartal II-2026. Ia mengatakan perbaikan itu ditopang oleh stabilisasi kualitas aset, prospek pertumbuhan kredit pada semester II-2026, serta dukungan stimulus pemerintah terhadap konsumsi dan pembiayaan.

Menurut Wafi, valuasi saham perbankan besar saat ini sudah cukup menarik untuk akumulasi bertahap. Ia melihat BBRI berpeluang terdorong oleh pemulihan segmen UMKM, BMRI didukung pendapatan yang relatif stabil, sementara BBNI dinilai paling menarik dari sisi valuasi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga menilai saham bank besar masih menarik karena ditopang fundamental yang kuat dan likuiditas tinggi, sehingga tetap menjaga minat investor asing. Ia menambahkan seluruh bank besar tersebut masih masuk dalam indeks MSCI Global Standard.

Namun, Nafan mengingatkan volatilitas jangka pendek masih berpotensi berlanjut setelah pengumuman MSCI. Ia memperkirakan saham-saham perbankan besar masih bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan sebelum cenderung stabil menjelang akhir Mei, dengan target harga BBCA Rp 8.350, BBRI Rp 3.670, BBNI Rp 4.520, dan BMRI Rp 5.650.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah yang menembus Rp17.600 per dolar AS, kami mengulas bagaimana kombinasi penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menekan kurs selama periode libur panjang. Kami juga menyoroti potensi berlanjutnya tekanan jangka pendek pada rupiah dan aset negara berkembang, seiring risiko gangguan pasokan energi dan prospek kebijakan moneter AS yang tetap ketat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.