BI dorong bank perluas kredit sektor produktif dan cari pendanaan di luar DPK

BI dorong bank perluas kredit sektor produktif dan cari pendanaan di luar DPK
BI dorong kredit produktif

Bank Indonesia mendorong perbankan meningkatkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang masih memiliki ruang tumbuh besar, sambil memperluas sumber pendanaan di luar dana pihak ketiga. Langkah ini diarahkan untuk membuat intermediasi perbankan lebih fleksibel dan menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

Sorotan

  • Bank Indonesia memperkenalkan skema insentif pendanaan baru yang akan mengurangi giro wajib minimum bagi bank yang mendapatkan pendanaan di luar DPK per 20/5/2026.
  • BI mendorong bank memperluas pembiayaan tidak hanya melalui kredit langsung, tetapi juga lewat instrumen surat berharga untuk meningkatkan fleksibilitas intermediasi.
  • Asesmen credit gap BI mengidentifikasi sektor pertanian dan perdagangan masih kekurangan pembiayaan, meski konsumsi rumah tangga tumbuh di atas 5% dan kredit perdagangan hanya 3,9%.

Skema insentif pendanaan dan arah ekspansi kredit

KONTAN melaporkan, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial dan Rasio Intermediasi Makroprudensial tidak hanya ditujukan untuk mendorong kredit, tetapi juga memacu inovasi pendanaan di industri perbankan. Dalam konferensi pers RDG BI pada Rabu, 20/5/2026, ia mengatakan BI mulai memperkenalkan skema baru yang mengaitkan pembiayaan dengan sumber pendanaan bank.

Dalam skema tersebut, bank yang mampu memperoleh pendanaan di luar DPK akan mendapat insentif berupa pengurangan giro wajib minimum, seperti dalam mekanisme KLM. Menurut Destry, mayoritas pendanaan bank selama ini masih berasal dari DPK, sehingga diversifikasi sumber dana dinilai penting untuk memperkuat kapasitas penyaluran pembiayaan.

BI juga mendorong bank memperluas bentuk pembiayaan, tidak hanya melalui kredit langsung tetapi juga lewat instrumen surat berharga. Otoritas menilai pendekatan itu dapat membuat fungsi intermediasi perbankan lebih luwes sekaligus mendukung kebutuhan pembiayaan ekonomi.

Pertanian dan perdagangan dinilai masih tertinggal

Bank Indonesia menyatakan telah memetakan sektor-sektor yang masih memiliki ruang besar untuk penyaluran kredit melalui asesmen credit gap, yaitu selisih antara realisasi kredit yang diterima suatu sektor dan potensi pertumbuhan sektor tersebut. Jika hasilnya negatif, hal itu menunjukkan kredit yang masuk masih berada di bawah potensi sektornya.

Dari asesmen tersebut, sektor pertanian menjadi salah satu area yang dinilai masih memiliki ruang ekspansi kredit yang besar meski kontribusinya terhadap produk domestik bruto menunjukkan pertumbuhan yang cukup impresif. Selain pertanian, sektor perdagangan juga dinilai masih kekurangan pembiayaan perbankan.

Destry mengatakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih berada di atas 5% belum sepenuhnya diikuti oleh pertumbuhan kredit perdagangan, yang disebut masih relatif rendah di kisaran 3,9%. Karena itu, BI mendorong bank lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor-sektor dengan multiplier effect besar terhadap perekonomian dan penciptaan lapangan kerja.

Dalam liputan kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada April 2026, kami mencatat kredit tumbuh 9,98% (yoy) dengan pendorong utama dari kredit investasi, sementara likuiditas dan ketahanan perbankan dinilai tetap kuat. Artikel itu juga menyoroti kelanjutan penguatan kebijakan makroprudensial yang akomodatif—termasuk Rasio Intermediasi Makroprudensial dan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial—untuk menjaga intermediasi serta stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.