Indonesia dan Pertamina perkuat kolaborasi ketahanan energi di tengah risiko geopolitik

Indonesia dan Pertamina perkuat kolaborasi ketahanan energi di tengah risiko geopolitik
Kolaborasi energi Indonesia

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global, pemerintah Indonesia dan Pertamina memperkuat komitmen bersama untuk menjaga ketahanan energi nasional. Langkah ini ditekankan saat pembukaan IPA Convex ke-50 di BSD City pada 20 hingga 22 Mei 2026, ketika tekanan rantai pasok dan transisi dari ketergantungan pada energi fosil menjadi sorotan.

Sorotan

  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia perlu segera mencari alternatif energi di tengah ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan geoekonomi.
  • Pertamina berkomitmen memperkuat ketahanan energi nasional dengan diversifikasi sumber pasokan dan menghadapi tekanan dari gangguan rantai pasok serta ketegangan geopolitik.
  • Strategi energi nasional Indonesia kini fokus pada penguatan koordinasi pemerintah dan pelaku sektor energi untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah pasar energi global yang tidak menentu.

Komitmen kolaborasi di forum energi

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan tantangan geopolitik, geoekonomi, dan ketegangan politik global saat ini memicu ketidakpastian yang dirasakan luas, termasuk di Indonesia. Ia menyampaikan kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada negara yang sedang bertikai, tetapi juga pada hampir seluruh negara dan masyarakat dunia.

Dalam pembukaan IPA Convex ke-50 di Ice BSD City, Bahlil menegaskan hampir semua negara kini berupaya melindungi kepentingannya masing-masing, baik yang memiliki sumber minyak maupun yang tidak. Menurutnya, pemerintah atas arahan Presiden perlu segera mencari alternatif energi lain yang tidak hanya mengandalkan bahan bakar minyak berbasis fosil, terutama ketika target lifting belum tercapai.

Dampak bagi ketahanan energi nasional

Pertamina juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika industri energi global yang makin kompleks. Perusahaan menilai berakhirnya era easy energy, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan gangguan rantai pasok dunia menambah tekanan terhadap keamanan pasokan energi.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa strategi energi nasional kini semakin diarahkan pada diversifikasi sumber pasokan dan penguatan koordinasi antara pemerintah dan pelaku utama sektor energi. Bagi Indonesia, pendekatan ini menjadi penting untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah pasar energi global yang tidak menentu.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang kewajiban ekspor komoditas SDA melalui BUMN, kami mengulas kebijakan yang memusatkan penjualan komoditas strategis seperti sawit, batu bara, dan ferroalloy lewat BUMN yang ditunjuk. Kami juga menyoroti tujuan langkah ini untuk memperketat pengawasan rantai perdagangan, menekan praktik under invoicing/transfer pricing, menjaga arus devisa ekspor, serta mengoptimalkan penerimaan negara.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.