Bank Indonesia perketat respons stabilisasi saat rupiah melemah ke Rp17.948 per dolar U.S.
Pelemahan rupiah ke level Rp17.948 per dolar U.S. mendorong Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Bank sentral menyatakan terus mencermati dinamika global dan dalam negeri sambil mengerahkan instrumen kebijakan secara konsisten untuk menopang likuiditas valas dan ketahanan eksternal.
Sorotan
- Rupiah melemah ke Rp17.948 per dolar U.S., Bank Indonesia umumkan langkah stabilisasi dan optimalisasi instrumen kebijakan pada 3 Juni 2026.
- Mulai 2 Juni 2026, Bank Indonesia membatasi transaksi pembelian valas tanpa underlying menjadi USD25.000 per pelaku per bulan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas pasar.
- Bank Indonesia memperluas kerja sama Local Currency Transaction dengan enam negara guna mengurangi ketergantungan pada dolar U.S. dan mitigasi volatilitas nilai tukar.
Langkah stabilisasi dan kebijakan valas
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Bank Indonesia menyatakan tetap hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten serta terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, pada Rabu, 3 Juni 2026, mengatakan bank sentral juga mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan agar mekanisme pasar berjalan baik dan kecukupan likuiditas valuta asing tetap terjaga.Mulai 2 Juni 2026, Bank Indonesia memberlakukan ketentuan batas transaksi pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying sebesar USD25.000 per pelaku per bulan. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pengelolaan pasar valas di tengah tekanan terhadap mata uang domestik.
Dorongan pengurangan ketergantungan dolar
Selain intervensi pasar, Bank Indonesia terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction, atau LCT. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar U.S. sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.Menurut BI, kerja sama LCT telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Bank Indonesia juga memandang stabilitas rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan, sehingga koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar terus diperkuat untuk menjaga mekanisme pasar dan ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang pengembangan skema Local Currency Transaction (LCT) Indonesia–China, kami menyoroti kesiapan bank-bank milik negara (Himbara) untuk terlibat sekaligus kebutuhan dukungan likuiditas CNY dari Bank Indonesia. Himbara menilai kecukupan yuan menjadi kunci agar transaksi CNY/IDR bisa berjalan di dalam negeri, seiring nilai transaksi LCT Indonesia–China yang terus meningkat dan ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada valuta asing perantara.
Berita LPS Terbaru
- Forex
- Crypto