Premi asuransi jiwa tradisional Indonesia melemah pada kuartal I-2026 di tengah pergeseran preferensi nasabah
Produk asuransi jiwa tradisional masih menjadi penopang utama industri, tetapi pendapatan preminya menurun 2,9% secara tahunan menjadi Rp30,10 triliun pada kuartal I-2026. Penurunan ini terjadi ketika nasabah semakin memprioritaskan perlindungan kesehatan murni dan fleksibilitas keuangan, sementara tekanan pasar turut membebani hasil investasi industri.
Sorotan
- Produk asuransi jiwa tradisional menyumbang 63,68% dari total premi industri namun nilainya anjlok pada kuartal I-2026 akibat penurunan single premium dan klaim jatuh tempo.
- Klaim kesehatan naik 15,3% pada kuartal I-2026, mencerminkan pergeseran preferensi nasabah ke perlindungan kesehatan murni dan meningkatnya partial withdrawal dari polis jiwa.
- Pendapatan premi industri asuransi jiwa turun 0,5% secara tahunan ke Rp47,27 triliun pada kuartal I-2026, menandakan tekanan di seluruh segmen pasar.
Faktor penurunan premi pada awal 2026
KONTAN Indonesia melaporkan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, AAJI, mencatat produk tradisional menyumbang 63,68% dari total premi industri asuransi jiwa meski nilainya turun pada kuartal I-2026.
Pengamat asuransi Irvan Rahardjo mengatakan koreksi premi dipengaruhi berkurangnya kontribusi dari produk single premium dan meningkatnya klaim akhir kontrak dari polis yang telah menyelesaikan masa perlindungannya. Fluktuasi pasar keuangan pada awal tahun juga memberi tekanan terhadap hasil investasi industri asuransi jiwa.
Ia menambahkan perubahan perilaku nasabah ikut membentuk perlambatan tersebut. Menurutnya, masyarakat kini lebih mengutamakan asuransi kesehatan murni dan menunjukkan preferensi yang lebih besar terhadap fleksibilitas finansial.
Dampak pergeseran permintaan bagi industri
Perubahan preferensi itu terlihat dari kenaikan klaim kesehatan sebesar 15,3% pada kuartal I-2026, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan di tengah inflasi biaya medis yang terus berlangsung. Selain itu, aktivitas partial withdrawal dari polis asuransi juga bertambah, menunjukkan kecenderungan nasabah memandang asuransi jiwa bukan hanya sebagai proteksi jangka panjang, tetapi juga sebagai instrumen likuid untuk dana darurat.Meski premi produk tradisional terkontraksi, Irvan menilai prospeknya pada sisa tahun ini masih cukup positif. Kenaikan kesadaran terhadap kebutuhan perlindungan kesehatan dan pergeseran minat dari produk unit link ke produk perlindungan murni berpotensi menopang pemulihan kinerja asuransi jiwa tradisional.
Secara industri, pendapatan premi asuransi jiwa juga masih tertekan pada kuartal I-2026 dengan koreksi 0,5% secara tahunan menjadi Rp47,27 triliun. Angka ini menunjukkan tekanan pada produk tradisional terjadi di tengah perlambatan yang lebih luas pada pasar asuransi jiwa Indonesia.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang komposisi premi asuransi jiwa pada kuartal I-2026, kami membahas bahwa segmen konvensional tetap menjadi penopang utama dengan pendapatan Rp42,86 triliun (naik 4,6%) atau 90,67% dari total premi industri. Kami juga mencatat premi unit usaha syariah turun tajam 32,2% menjadi Rp4,41 triliun, sementara total premi industri secara keseluruhan masih terkontraksi tipis 0,5% menjadi Rp47,27 triliun.
Berita Rogers Communications Terbaru
- Forex
- Crypto