Pabrik tahu rumahan Jakarta naikkan biaya produksi saat harga kedelai melonjak

Pabrik tahu rumahan Jakarta naikkan biaya produksi saat harga kedelai melonjak
Tahu naik biaya produksi

Produsen tahu rumahan di Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, mempertahankan pola operasi harian mereka di tengah tekanan kenaikan harga kedelai yang mempersempit ruang usaha. Kenaikan bahan baku memaksa pengelola menyesuaikan ongkos produksi, sementara harga jual tahu tidak leluasa dinaikkan kepada pedagang pasar.

Sorotan

  • Harga kedelai naik dari Rp 9.300 menjadi Rp 11.000 per kilogram, mendorong pabrik tahu rumahan Jakarta menaikkan biaya produksinya.
  • Pabrik menghabiskan 2,5–3 kuintal kedelai per hari, dengan produksi menurun jika mutu kedelai rendah sehingga menekan efisiensi.
  • Biaya produksi per saringan atau 10 kilogram kedelai naik dari Rp 160.000 akibat lonjakan harga bahan baku kedelai.

Operasi harian dan tekanan biaya bahan baku

Seperti dilaporkan Kompas.com, pabrik tahu rumahan itu mulai beroperasi sejak pukul 05.00 WIB dan terus melayani selama masih ada pedagang yang datang untuk memproses pesanan. Selama delapan tahun sejak berdiri, pola kegiatan usahanya tidak banyak berubah, tetapi lonjakan harga kedelai kini menjadi tekanan utama bagi keberlangsungan produksi.

Pengelola pabrik tahu Sugeng mengatakan jumlah pekerja tetap saat ini sekitar tiga orang, meski lokasi usaha tetap ramai. Menurut dia, sebagian aktivitas juga dibantu pedagang pasar yang datang sendiri untuk memotong tahu dan menangani pesanan mereka setelah membeli kedelai di pabrik tersebut.

Dalam sehari, pabrik itu menghabiskan sekitar 2,5 hingga tiga kuintal kedelai. Untuk satu saringan dibutuhkan 10 kilogram kedelai, dan dari jumlah itu dapat dihasilkan tujuh papan tahu berukuran 40 x 60 sentimeter jika mutu kedelai sedang baik.

Dampak mutu kedelai pada hasil produksi

Ketika kualitas kedelai menurun, hasil cetakan tahu menjadi kurang dari tujuh papan untuk setiap 10 kilogram bahan baku. Hal ini membuat efisiensi produksi ikut tertekan pada saat harga kedelai justru meningkat.

Sugeng mengatakan biaya produksi sebelumnya berada di level Rp 160.000 per saringan atau per 10 kilogram kedelai. Namun setelah harga kedelai naik menjadi Rp 11.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 9.300 per kilogram, pabrik menaikkan biaya produksi sebagai langkah bertahan di tengah tekanan margin usaha kecil pengolahan pangan di Jakarta.

Kenaikan harga Pertamax per 10 Juni 2026 yang sebelumnya kami bahas menambah tekanan pengeluaran rumah tangga, terutama bagi kelas menengah yang tidak menerima bantuan sosial. Dalam ulasan itu, kami menyoroti potensi efek berantai ke ongkos transportasi, biaya logistik, dan tarif jasa yang pada akhirnya dapat menahan konsumsi, sekaligus mendorong kebutuhan kebijakan penahan dampak agar kenaikan biaya tidak cepat menyebar ke sektor lain.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.