Ashutosh Sureka

Pabrik tahu rumahan Jakarta Utara pertahankan omzet di tengah kenaikan biaya kedelai

Pabrik tahu rumahan Jakarta Utara pertahankan omzet di tengah kenaikan biaya kedelai
Omzet tahu tetap stabil

Kenaikan harga kedelai menekan margin produsen tahu skala rumahan di Jakarta Utara, tetapi satu pabrik di Semper Barat, Cilincing, masih menjaga produksi harian untuk memenuhi permintaan pasar. Dengan output sekitar 2,5 kuintal per hari, usaha tersebut mencatat omzet bulanan hingga sekitar Rp 120 juta meski biaya bahan baku, listrik, air, dan kayu bakar meningkat.

Sorotan

  • Pabrik tahu Semper Barat menjaga omzet harian sekitar Rp 4 juta lebih meski harga kedelai melonjak dari Rp 9.300 menjadi Rp 11.000 per kilogram.
  • Biaya listrik dan air masing-masing mencapai Rp 4 juta per bulan, sementara kebutuhan kayu bakar sekitar Rp 700.000 per hari dari dua mobil kayu.
  • Biaya produksi per saringan naik dari Rp 160.000 menjadi Rp 170.000, meningkatkan sensitivitas profitabilitas terhadap fluktuasi harga bahan baku dan energi.

Struktur biaya produksi makin berat

Seperti dilaporkan Kompas.com, pabrik tahu rumahan di Semper Barat, Cilincing, tetap beroperasi sejak dini hari hingga sore hari di tengah lonjakan biaya operasional. Pengelola pabrik, Sugeng, mengatakan produksi 2,5 kuintal dapat menghasilkan sekitar Rp 4 juta lebih per hari, berdasarkan perhitungan Rp 170.000 per saringan atau per 10 kilogram kedelai.

Di balik omzet tersebut, beban modal usaha ikut naik karena harga kedelai kini berada di kisaran Rp 11.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp 9.300 per kilogram. Biaya listrik juga mencapai Rp 4 juta per bulan karena mesin air digunakan dalam proses produksi, sementara biaya air menyentuh sekitar Rp 4 juta per bulan akibat tingginya kebutuhan untuk merebus kedelai.

Pabrik itu juga mengeluarkan biaya besar untuk kayu bakar. Menurut Sugeng, kebutuhan harian dapat mencapai dua mobil kayu dengan nilai sekitar Rp 700.000 per hari, dengan harga satu mobil sekitar Rp 350.000.

Daya tahan usaha kecil di pasar harian

Kenaikan biaya produksi mendorong penyesuaian ongkos per saringan tahu. Sugeng mengatakan biaya produksi untuk satu saringan yang setara 10 kilogram kedelai kini naik menjadi Rp 170.000, dari biasanya sekitar Rp 160.000.

Penyesuaian itu dilakukan agar usaha tetap dapat menutup biaya air dan listrik, sekaligus menjaga kelangsungan pasokan ke pasar yang berjalan setiap hari. Kondisi ini menunjukkan produsen tahu skala kecil masih memiliki ruang pendapatan yang kuat, tetapi profitabilitasnya semakin sensitif terhadap fluktuasi harga bahan baku dan energi di tingkat lokal.

Kayu bakar untuk mendukung produksi dibeli dari Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, yang lokasinya tidak jauh dari pabrik. Sugeng berharap harga kedelai kembali stabil agar tekanan terhadap biaya operasional dapat mereda.

Kenaikan harga Pertamax per 10 Juni 2026 menjadi Rp 16.250 per liter kami soroti sebagai pemicu tekanan baru pada pengeluaran, terutama bagi kelas menengah yang tidak menerima bantuan sosial. Dalam ulasan tersebut, kami menekankan potensi efek rambatan ke ongkos transportasi, tarif jasa, dan biaya distribusi barang, serta perlunya langkah peredam agar kenaikan biaya energi tidak cepat menyebar ke sektor lain.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.