Aftech catat penyaluran pindar lampaui Rp1.388 triliun, porsi borrower UMKM capai 40 persen

Aftech catat penyaluran pindar lampaui Rp1.388 triliun, porsi borrower UMKM capai 40 persen
Digital Lending Capai Rekor

Pertumbuhan pembiayaan digital terus memperluas akses kredit bagi masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan formal di Indonesia. Akumulasi penyaluran pinjaman digital kini melampaui Rp1.388 triliun, dengan lebih dari 169 juta borrower aktif dan sekitar 38 hingga 40 persen di antaranya berasal dari kalangan UMKM.

Sorotan

  • Aftech mencatat total akumulasi penyaluran pinjaman fintech mencapai Rp1.388 triliun dengan lebih dari 169 juta borrower aktif hingga saat ini.
  • Sebesar 38–40 persen borrower fintech berasal dari UMKM yang memperoleh akses pendanaan pertama kali, memperluas inklusi keuangan nasional.
  • Lebih dari 90 persen borrower membayar pinjaman tepat waktu, memperkuat posisi fintech pendanaan sebagai alternatif pembiayaan formal di Indonesia.

Capaian penyaluran dan tata kelola industri

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mencatat total akumulasi penyaluran pinjaman telah menembus Rp1.388 triliun. Organisasi itu juga menyebut lebih dari 169 juta borrower aktif telah terlayani, sementara lebih dari 90 persen borrower membayar tepat waktu sesuai perjanjian.

Sekretaris Jenderal Aftech, Firlie Ganinduto, mengatakan pindar menjadi jembatan bagi jutaan orang yang selama ini tidak memiliki rekam jejak perbankan untuk memperoleh modal dan berkembang. Menurut dia, peminjam menggunakan dana itu untuk membeli stok dagangan, membayar biaya sekolah anak, atau menambah modal saat arus kas tersendat, lalu melunasi pinjamannya tanpa masalah.

Firlie menegaskan Aftech secara aktif memastikan seluruh penyelenggara pindar yang menjadi anggota beroperasi dengan standar tata kelola yang ketat, transparan dalam biaya dan bunga sejak awal perjanjian, serta memiliki mekanisme perlindungan konsumen yang terstandar dan dapat diakses publik. Ia menyatakan kepercayaan menjadi fondasi utama agar industri ini terus tumbuh dan tetap relevan bagi pengguna, regulator, dan masyarakat luas.

Dampak bagi UMKM dan inklusi keuangan

Sekitar 38 hingga 40 persen borrower yang terlayani merupakan pelaku UMKM yang memperoleh akses pendanaan untuk pertama kalinya. Porsi ini menunjukkan peran pindar dalam memperluas inklusi keuangan, terutama bagi usaha kecil yang sebelumnya sulit mengakses pembiayaan formal.

Bagi sektor UMKM, perluasan akses pendanaan berpotensi mendukung kebutuhan modal kerja harian dan menjaga kelancaran usaha saat arus kas tertekan. Di tingkat industri, capaian penyaluran dan tingkat pembayaran tepat waktu itu juga memperkuat posisi fintech pendanaan sebagai salah satu saluran pembiayaan alternatif di Indonesia.

Kerja sama Askrindo dengan Pemkab Soppeng untuk penjaminan proyek dan perlindungan UMKM sebelumnya kami soroti sebagai langkah mitigasi risiko bagi pembangunan daerah dan keberlangsungan usaha kecil. Dalam kerja sama tersebut, Askrindo menyediakan skema suretyship untuk meningkatkan kepastian pelaksanaan proyek, sekaligus memperluas asuransi umum bagi UMKM yang mencakup aset usaha dan berbagai risiko gangguan. Askrindo juga menyatakan komitmen memperluas layanan penjaminan berbasis digital di Sulawesi Selatan agar proses penerbitan jaminan dan klaim lebih cepat serta transparan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.