Bank kecil pilih tambah modal organik untuk naik kelas KBMI di Indonesia

Bank kecil pilih tambah modal organik untuk naik kelas KBMI di Indonesia
Modal organik, bank naik kelas

Bank-bank KBMI 1 di Indonesia terus menata strategi untuk memenuhi ambang modal inti agar bisa naik ke KBMI 2 di tengah ketidakpastian ekonomi dan belum adanya aturan baku baru dari regulator. Sejumlah bank kecil kini lebih mengutamakan setoran modal dari pemegang saham dan pertumbuhan bisnis daripada menjadikan konsolidasi sebagai langkah utama.

Sorotan

  • Total modal inti 33 bank KBMI 1 per Maret 2026 mencapai Rp 115,42 triliun, masih kurang Rp 82,58 triliun tanpa konsolidasi untuk naik kelas KBMI 2.
  • Bank Ina Perdana dan OK Bank memilih penambahan modal organik dari pemegang saham, masing-masing baru mencapai Rp 2,81 triliun dan Rp 3,82 triliun hingga Maret 2026.
  • CIMB Group dan bank-bank kecil belum memprioritaskan konsolidasi, sementara regulator mendorong penguatan modal industri perbankan melalui pertumbuhan organik.

Strategi modal di tengah target naik kelas

KONTAN Indonesia melaporkan, konsolidasi tetap menjadi salah satu jalur yang dapat dipakai bank kecil untuk memenuhi syarat modal inti minimum Rp 6 triliun guna masuk ke KBMI 2, tetapi banyak bank belum menempatkannya sebagai prioritas utama. Dari 33 bank KBMI 1 dalam riset per Maret 2026, total modal inti seluruh bank mencapai Rp 115,42 triliun, dan tanpa konsolidasi total tambahan modal inti yang masih diperlukan mencapai Rp 82,58 triliun.

CIMB Group Holdings Berhad baru-baru ini mengungkapkan peluang aksi korporasi melalui merger dan akuisisi yang disebut sejalan dengan komitmennya terhadap pasar Indonesia. CEO CIMB Group Novan Amirudin menyatakan investor yang melihat potensi jangka panjang Indonesia menilai saat ini sebagai waktu yang tepat untuk masuk.

Namun, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menegaskan hingga kini belum ada rencana konsolidasi baru yang disiapkan. Ia mengatakan CIMB Niaga, sebagai representasi CIMB Group di Indonesia, tetap mencermati peluang yang ada, termasuk terkait anak perusahaan dan bank usaha syariah di tengah aturan konglomerasi yang baru.

Pilihan organik dan dampak bagi industri

Bank Ina Perdana menjadi salah satu contoh bank KBMI 1 yang lebih memilih penambahan modal tunai dari pemegang saham. Hingga Maret 2026, modal inti bank ini mencapai Rp 2,81 triliun, dan Direktur Utama Bank Ina Henry Koenaifi mengatakan pemegang saham siap menambah modal hingga sesuai ketentuan.

Bank Ina juga belum membuka opsi penambahan modal anorganik, termasuk lewat konsolidasi. Sebagai gantinya, bank membidik pertumbuhan kinerja melalui perluasan portofolio kredit, dengan kredit pemilikan rumah menjadi salah satu segmen yang dibidik.

OK Bank juga belum memiliki rencana konsolidasi tertentu. Hingga Maret 2026, modal inti bank ini berada di Rp 3,82 triliun, sehingga masih terdapat kekurangan sekitar Rp 2,17 triliun untuk naik ke KBMI 2. Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan perseroan terus mengevaluasi berbagai opsi strategis, termasuk peluang konsolidasi dan aksi korporasi, tetapi belum ada rencana yang dapat disampaikan ke publik.

Menurut bank-bank tersebut, dorongan regulator agar bank KBMI 1 naik kelas ke KBMI 2 pada akhirnya diarahkan untuk memperkuat struktur permodalan industri perbankan. Arah ini menunjukkan penguatan modal lewat dukungan pemegang saham dan pertumbuhan organik masih menjadi jalur utama bagi sebagian bank kecil di Indonesia.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang dampak kenaikan BI Rate ke 5,5% terhadap bank KBMI 1, kami menyoroti bagaimana bank bermodal inti kecil makin tertekan karena harus menaikkan bunga simpanan, sehingga biaya dana naik dan ruang ekspansi kredit serta profitabilitas menyempit. Kami juga mencatat pergeseran dana nasabah ke bank besar atau instrumen moneter seperti SRBI yang menekan likuiditas, sehingga penambahan modal atau merger dinilai menjadi opsi paling realistis untuk menjaga daya saing.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.