Saham bank besar rebound seiring pemulihan IHSG, arus asing masih membatasi prospek

Saham bank besar rebound seiring pemulihan IHSG, arus asing masih membatasi prospek
Bank besar rebound IHSG

Reli saham perbankan berkapitalisasi besar kembali menguat di tengah pemulihan pasar saham domestik pada perdagangan pekan lalu. Kenaikan ini masih terutama ditopang investor domestik, sementara keberlanjutan tren naik tetap bergantung pada membaiknya sentimen makroekonomi dan kembalinya dana asing.

Sorotan

  • BBCA memimpin kenaikan saham bank besar dengan lonjakan 16,75% ke Rp5.925, diikuti BBNI naik 10,9%, BMRI 9,38%, BBRI 4,01%, seiring IHSG menguat 7,38% ke 6.007,65.
  • Aliran asing tetap terbatas saat BBCA mencatat net buy Rp192,85 miliar, sedangkan BBNI, BMRI, dan BBRI alami net sell Rp38,78 miliar, Rp168,1 miliar, dan Rp371,65 miliar.
  • Reli bank ditopang valuasi murah, meredanya tekanan makro, kebijakan stabilisasi rupiah, serta pertumbuhan kredit dan laba perbankan yang tetap positif meski margin tertekan.

Pergerakan saham dan pendorong rebound

Kontan melaporkan, BBCA memimpin penguatan saham bank besar pada perdagangan pekan lalu dengan kenaikan 16,75% ke Rp5.925, diikuti BBNI yang naik 10,9% ke Rp3.560, BMRI menguat 9,38% ke Rp4.200, dan BBRI bertambah 4,01% ke Rp2.850. Pergerakan itu sejalan dengan kenaikan IHSG sebesar 7,38% ke level 6.007,65.

Di tengah penguatan tersebut, minat investor asing masih terbatas. Pada hari terakhir perdagangan pekan lalu, hanya BBCA mencatat net buy asing sebesar Rp192,85 miliar, sedangkan BBNI masih mengalami net sell Rp38,78 miliar, BMRI Rp168,1 miliar, dan BBRI Rp371,65 miliar.

Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan penguatan pasar saham mencerminkan naiknya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional. Ia juga menilai rencana buyback saham-saham BUMN merupakan langkah yang wajar ketika harga saham belum mencerminkan nilai fundamental perusahaan.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai reli saham perbankan tidak hanya dipicu isu buyback. Menurut dia, valuasi saham bank yang sudah murah memicu bargain hunting, sementara tekanan makro mulai mereda setelah langkah agresif otoritas moneter menjaga stabilitas rupiah; di sisi lain, pertumbuhan kredit dan laba industri perbankan masih tetap positif meski margin tertekan suku bunga tinggi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang lonjakan IHSG pada 15 Juni 2026, kami menyoroti penguatan indeks yang sangat cepat disertai aktivitas transaksi tinggi dan dominasi saham yang naik, termasuk penguatan sektor perbankan seperti BMRI. Kami juga mencatat bahwa kenaikan tersebut dinilai masih wajar sepanjang persepsi terhadap fundamental dan kebijakan Indonesia tetap positif, meski pasar berpotensi mengalami koreksi tipis dan tetap dipengaruhi arus dana asing.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.