Indonesia dorong reorientasi MBG jadi platform ekonomi pangan
Program Makan Bergizi Gratis kini menghadapi tekanan kredibilitas di tengah tujuan besarnya mendukung generasi Indonesia Emas 2045. Di saat yang sama, usulan reorientasi program mengarah pada perubahan MBG dari belanja konsumtif menjadi instrumen ekonomi pangan yang dinilai bisa memperkuat nilai tambah lokal dan membuka potensi PNBP.
Sorotan
- Usulan reorientasi MBG bertujuan mengubah skema linear konsumsi menjadi siklus bernilai tambah, dengan 82,9 juta penerima manfaat berpotensi membangun ekosistem pangan nasional.
- Komersialisasi infrastruktur rantai dingin Koperasi Desa Merah Putih di kecamatan ditargetkan menekan food loss pangan sebesar 20 persen hingga 30 persen dan menghasilkan pendapatan baru.
- Pendekatan ekonomi sirkular pada limbah pangan dan minyak jelantah diproyeksikan menciptakan arus pendapatan berkelanjutan dan memperkuat kemandirian finansial daerah dari anggaran MBG.
Usulan perubahan model MBG
Sebagaimana ditulis Kompas Indeks News Indonesia, sorotan terhadap MBG menguat setelah program itu dikaitkan dengan dugaan korupsi yang menyeret mantan pimpinan Badan Gizi Nasional, termasuk isu suap verifikasi mitra dan pengadaan motor listrik. Kondisi itu mendorong desakan agar MBG tidak lagi diposisikan semata sebagai pusat biaya yang mengandalkan penyaluran anggaran konsumsi jangka pendek.Dalam naskah tersebut, pola MBG saat ini digambarkan sebagai skema linear, APBN digunakan untuk membeli makanan, didistribusikan kepada penerima, lalu anggaran habis tanpa membentuk sumber pendapatan baru. Model seperti ini dinilai rentan ketika harga minyak mentah naik dan nilai tukar rupiah tertekan, karena ruang fiskal negara dapat menyempit untuk sektor produktif lain.
Reorientasi yang diusulkan mengubah alur itu menjadi siklus produksi dan nilai tambah, dari APBN ke produksi, lalu ke pendapatan dan akhirnya ke PNBP. Dengan cakupan 82,9 juta penerima manfaat, MBG dipandang dapat menjadi daya ungkit untuk membangun ekosistem bisnis pangan yang lebih luas dan inklusif di berbagai daerah.
Peluang pendapatan dan dampak bagi ekonomi lokal
Salah satu pilar yang diangkat adalah komersialisasi infrastruktur rantai dingin melalui Koperasi Desa Merah Putih di tingkat kecamatan. Jaringan penyimpanan dingin itu ditujukan untuk menekan food loss pangan yang disebut mencapai 20 persen sampai 30 persen, sementara kapasitas yang tidak terpakai di luar jam operasional program dapat disewakan kepada petani dan nelayan lokal.Selain itu, limbah pangan juga diposisikan sebagai sumber nilai ekonomi baru dalam pendekatan ekonomi sirkular. Volume limbah organik dan minyak jelantah dari jutaan porsi makanan setiap hari disebut membuka peluang pemanfaatan yang lebih produktif, sehingga MBG tidak hanya memberi dampak sosial, tetapi juga berpotensi menciptakan arus pendapatan berkelanjutan bagi pelaku lokal dan kas negara.
Jika skema tersebut diterapkan, MBG dapat bergeser dari program belanja yang habis pakai menjadi investasi nasional dengan efek jangka panjang bagi sektor pangan Indonesia. Perubahan itu juga berpotensi memperluas kemandirian finansial di daerah, karena setiap alokasi anggaran dapat diputar kembali menjadi aktivitas usaha, nilai tambah, dan penerimaan negara.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang percepatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, kami membahas target pemerintah agar puluhan ribu koperasi beroperasi hingga Agustus 2026, disertai kebutuhan dukungan anggaran pada 2027 untuk memperkuat manajemen dan kelembagaan. Artikel itu menekankan bahwa ekspansi jaringan koperasi berbasis desa dapat memperkuat infrastruktur ekonomi lokal serta distribusi barang dan layanan di daerah.
Berita Indodax Terbaru
- Forex
- Crypto