BCA perketat manajemen risiko kredit di tengah ketidakpastian ekonomi

BCA perketat manajemen risiko kredit di tengah ketidakpastian ekonomi
BCA perketat kredit bank

Di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan yang berpotensi memengaruhi kualitas aset perbankan, PT Bank Central Asia Tbk menjaga penyaluran kredit dengan pendekatan yang hati-hati. Hingga Maret 2026, bank ini menyalurkan total kredit Rp 994 triliun sambil mempertahankan pencadangan yang dinilai solid untuk menopang kualitas aset.

Sorotan

  • BCA memperketat manajemen risiko kredit dengan monitoring portofolio, EWS, dan evaluasi sektor industri di tengah ketidakpastian ekonomi global.
  • Hingga kuartal I-2026, rasio pencadangan loan at risk (LAR) BCA tercatat 69,7% dan NPL coverage mencapai 174,6%.
  • BCA rutin melakukan stress test dan menjaga komunikasi dengan debitur, menjaga kualitas aset dan pertumbuhan kredit tetap sehat serta terukur.

Strategi penyaluran kredit dan pengawasan portofolio

Kepada KONTAN, Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan pertumbuhan kredit perbankan pada dasarnya sejalan dengan perkembangan kondisi perekonomian, sehingga perseroan tetap berfokus pada fundamental bisnis dan disiplin dalam penerapan manajemen risiko.

BCA menyalurkan kredit ke berbagai segmen dan sektor usaha dengan tetap mempertimbangkan kualitas debitur serta kemampuan mereka beradaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi maupun kebijakan. Perseroan juga secara konsisten memantau risiko kredit, termasuk konsentrasi portofolio pada sektor atau debitur tertentu, serta menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang berpotensi terdampak perubahan kondisi ekonomi.

Selain itu, BCA rutin mengevaluasi prospek berbagai sektor industri untuk menentukan strategi pembiayaan yang sesuai dengan profil risiko masing-masing sektor. Pengawasan tersebut mencakup penggunaan limit kredit dan kualitas portofolio agar pertumbuhan pembiayaan tetap sehat.

Dampak pada kualitas aset dan ketahanan perbankan

Untuk menjaga kualitas aset, BCA mengandalkan sistem peringatan dini atau Early Warning System, EWS, guna mendeteksi potensi penurunan kualitas debitur sejak awal. Melalui sistem ini, bank dapat mengambil langkah mitigasi lebih cepat sehingga risiko kredit bermasalah dapat ditekan.

Perseroan juga rutin melakukan stress test untuk mengukur ketahanan portofolio kredit terhadap berbagai skenario risiko ekonomi dan bisnis. Dari sisi pencadangan, hingga kuartal I-2026 rasio pencadangan loan at risk, LAR, tercatat 69,7%, sedangkan rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah atau NPL coverage mencapai 174,6%.

Dengan kualitas aset yang tetap terjaga dan pencadangan yang kuat, BCA optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan kredit yang sehat sekaligus menjaga profil risiko tetap terkendali. Langkah ini mencerminkan sikap perbankan yang cenderung selektif dalam ekspansi pembiayaan saat ketidakpastian ekonomi global masih membayangi sektor keuangan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi BCA menjaga bunga kredit kendaraan bermotor (KKB) di tengah kenaikan BI Rate, kami menyoroti bahwa penyesuaian bunga KKB tidak dilakukan secara otomatis meski suku bunga acuan naik ke 5,5%. Kami juga mencatat BCA tetap memperhatikan daya beli nasabah, memantau risiko ekonomi dan industri, serta menyesuaikan produk dan kemitraan untuk menjaga ekspansi pembiayaan kendaraan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.