AAUI catat premi asuransi umum tumbuh 1,92% pada kuartal I-2026
Industri asuransi umum Indonesia membukukan pendapatan premi Rp 31,11 triliun pada kuartal I-2026 di tengah dukungan kondisi makroekonomi dan pertumbuhan kredit. Kenaikan ini setara tambahan sekitar Rp 587 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara total klaim naik lebih cepat menjadi Rp 12,92 triliun.
Sorotan
- Pendapatan premi industri asuransi umum Indonesia tumbuh 1,92% YoY menjadi Rp 31,11 triliun pada kuartal I-2026, didorong kontribusi utama dari properti dan kendaraan bermotor.
- Lini energy on shore mencatat pertumbuhan tertinggi 185,6% YoY menjadi Rp 178 miliar, sedangkan energy off shore, engineering, dan personal accident masing-masing turun 51,5%, 44,4%, dan 31,3%.
- Total klaim industri asuransi umum naik 17,7% YoY ke Rp 12,92 triliun, sehingga perusahaan dituntut memperkuat permodalan, underwriting, dan pengelolaan risiko untuk menjaga profitabilitas.
Kinerja premi dan pergerakan lini usaha
Seperti dilaporkan KONTAN, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, AAUI, mencatat pendapatan premi industri asuransi umum mencapai Rp 31,11 triliun pada kuartal I-2026, naik 1,92% secara tahunan. Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset & Analisis Heri Supriyadi mengatakan pertumbuhan itu setara sekitar Rp 587 miliar dibandingkan kuartal I-2025.Lini properti masih menjadi kontributor terbesar dengan pangsa pasar 26,7% dan premi Rp 8,31 triliun, naik 6,5% YoY. Asuransi kendaraan bermotor menyumbang 17,3% dengan premi Rp 5,39 triliun, tumbuh 2,9% YoY, diikuti asuransi kesehatan dengan porsi 14,9% dan premi Rp 4,63 triliun, serta asuransi kredit dengan porsi 13,2% dan premi Rp 4,10 triliun, naik 3,2% YoY.
Berdasarkan lini usaha, pertumbuhan tertinggi datang dari energy on shore yang melonjak 185,6% YoY menjadi Rp 178 miliar dari Rp 62 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan juga terjadi pada health insurance sebesar 23% menjadi Rp 4,63 triliun, marine hull naik 15,4% menjadi Rp 1,08 triliun, miscellaneous tumbuh 13,3% menjadi Rp 1,75 triliun, dan properti meningkat 6,5% menjadi Rp 8,31 triliun.
Di sisi lain, sejumlah lini masih mencatat penurunan premi. Premi energy off shore turun 51,5% menjadi Rp 90 miliar, engineering merosot 44,4% menjadi Rp 965 miliar, dan personal accident terkoreksi 31,3% menjadi Rp 787 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dukungan makroekonomi dan tekanan klaim
Heri menilai kondisi ekonomi makro masih mendukung pertumbuhan industri asuransi umum. Menurut dia, pertumbuhan kredit 8,9% secara tahunan, peningkatan likuiditas M2 sebesar 9,7%, serta pertumbuhan ekspor 3,1% menjadi faktor positif bagi industri.AAUI juga mencatat total klaim industri asuransi umum mencapai Rp 12,92 triliun pada kuartal I-2026, naik 17,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski klaim meningkat, asosiasi menilai fundamental industri asuransi umum dan reasuransi masih terjaga, tercermin dari pertumbuhan premi di sejumlah lini usaha, kenaikan laba, serta penguatan aset dan investasi industri.
Ke depan, AAUI berharap industri terus memperkuat permodalan, kualitas underwriting, dan pengelolaan risiko untuk menghadapi berbagai tantangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Gambaran ini menunjukkan ruang pertumbuhan tetap terbuka, tetapi perusahaan asuransi juga menghadapi kebutuhan menjaga profitabilitas di tengah kenaikan beban klaim.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kontraksi premi asuransi umum dan reasuransi hingga April 2026, kami mencatat pendapatan premi industri turun 4,32% secara tahunan menjadi Rp 53,43 triliun di tengah perlambatan aktivitas ekonomi dan penyesuaian permintaan. Sejumlah lini seperti engineering, personal accident, marine cargo, aviation, liability, dan energy offshore saat itu tertekan, sementara properti, kesehatan, kredit, marine hull, dan kendaraan bermotor masih tumbuh terbatas. AAUI juga menilai prospek 2026 cenderung moderat dan sangat bergantung pada pemulihan ekonomi, pembiayaan, serta realisasi proyek.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto