YOII nilai pelemahan rupiah dan geopolitik global berpotensi menekan kinerja asuransi
Di tengah kenaikan rasio klaim industri asuransi, PT Asuransi Digital Bersama Tbk menilai tekanan daya beli masyarakat, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian global dapat membebani pertumbuhan premi pada tahun ini. Perseroan menyatakan kondisi itu juga berisiko mendorong kenaikan klaim di sejumlah lini bisnis, meski profitabilitas YOII hingga Mei 2026 masih tumbuh kuat.
Sorotan
- Rasio klaim YOII naik menjadi 26,59% per Mei 2026 dari 19,45% tahun sebelumnya, namun laba bersih melonjak 200,25% menjadi Rp 12,04 miliar.
- YOII menerapkan seleksi risiko lebih prudent, optimalisasi reasuransi, digitalisasi proses klaim, dan deteksi fraud berbasis data untuk menjaga rasio klaim terkendali.
- Rasio klaim industri asuransi umum naik menjadi 41,5% per Maret 2026 dari 36% tahun sebelumnya, merefleksikan tekanan klaim akibat pelemahan rupiah dan geopolitik.
Strategi YOII menjaga rasio klaim
Kepada KONTAN, Corporate Secretary PT Asuransi Digital Bersama Tbk Rahmat Dwiyanto mengatakan tekanan terhadap daya beli masyarakat dapat memengaruhi pertumbuhan premi asuransi, sehingga rasio klaim berpotensi meningkat secara proporsional bila premi melambat.Ia juga mengatakan ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah, berpotensi memengaruhi aktivitas perjalanan masyarakat. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kinerja sejumlah lini bisnis asuransi, baik melalui perlambatan pertumbuhan premi maupun peningkatan klaim.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, rasio klaim YOII tercatat 26,59% per Mei 2026, naik dari 19,45% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, Rahmat menegaskan rasio tersebut masih berada dalam kategori sehat dan belum memberi tekanan signifikan terhadap profitabilitas, tercermin dari laba bersih yang mencapai Rp 12,04 miliar per Mei 2026, melonjak 200,25% secara tahunan.
Untuk menjaga rasio klaim tetap terkendali, YOII menyiapkan sejumlah langkah, antara lain memperkuat kualitas portofolio lewat seleksi risiko atau underwriting yang lebih prudent dengan dukungan teknologi digital. Perseroan juga mengoptimalkan program reasuransi, meningkatkan kemampuan deteksi fraud melalui analitik data, serta mendorong efisiensi proses klaim melalui digitalisasi dan otomatisasi.
Dampak bagi industri asuransi umum
Rahmat menambahkan perusahaan terus melakukan diversifikasi portofolio secara terukur dengan tetap mengedepankan disiplin underwriting. Melalui langkah tersebut, YOII optimistis dapat menjaga rasio klaim pada level sehat sekaligus mendukung pertumbuhan kinerja secara berkelanjutan.Sebagai pembanding, data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menunjukkan rasio klaim industri asuransi umum mencapai 41,5% per Maret 2026, naik dari 36% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan itu menunjukkan tekanan klaim menjadi isu yang lebih luas di sektor asuransi, di saat pelaku industri juga menghadapi risiko perlambatan premi akibat kondisi ekonomi dan gejolak eksternal.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja premi dan klaim industri asuransi umum Indonesia pada kuartal I-2026, kami mencatat pendapatan premi naik 1,92% (YoY) menjadi Rp 31,11 triliun, dengan kontribusi terbesar dari lini properti dan kendaraan bermotor. Namun, total klaim meningkat lebih cepat, naik 17,7% (YoY) menjadi Rp 12,92 triliun, sehingga pelaku industri didorong memperkuat permodalan, kualitas underwriting, dan pengelolaan risiko untuk menjaga profitabilitas.
Berita Allianz Terbaru
- Forex
- Crypto