Kredit perbankan Indonesia tumbuh 11,5%, bank besar negara masih menopang ekspansi

Kredit perbankan Indonesia tumbuh 11,5%, bank besar negara masih menopang ekspansi
Kredit bank naik 11,5%

Menjelang pertengahan 2026, pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia terus menguat, tetapi laju ekspansi itu belum tersebar merata di seluruh jenis pinjaman dan kelompok bank. Kredit investasi dan modal kerja masih mendorong kenaikan, sementara kredit konsumsi melambat dan sejumlah bank swasta memilih menyalurkan pembiayaan secara lebih selektif.

Sorotan

  • Kredit perbankan Indonesia tumbuh 11,51% yoy hingga Mei 2026, dipercepat oleh kredit investasi yang naik 21,95% yoy.
  • Pertumbuhan kredit terutama didorong Himbara lewat proyek pemerintah, sementara bank swasta lebih selektif dan mengalihkan likuiditas ke instrumen risiko rendah.
  • Laju pertumbuhan antar bank besar berbeda tajam: Bank Mandiri tumbuh 20,56% yoy, sedangkan Bank Central Asia hanya 4,85% yoy hingga Mei 2026.

Pola pertumbuhan kredit pada Mei 2026

KONTAN Indonesia melaporkan, data Bank Indonesia menunjukkan kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan hingga Mei 2026, lebih cepat dari 9,98% yoy pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan penggunaannya, kredit investasi tetap menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 21,95% yoy, naik dari 19,48% yoy pada bulan sebelumnya. Kredit modal kerja juga meningkat menjadi 8,09% yoy dari 6,04% yoy, sedangkan kredit konsumsi melambat menjadi 5,89% yoy dari 6,13% yoy.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai perlambatan kredit konsumsi menunjukkan daya beli ritel masih lemah. Menurut dia, kepercayaan konsumen yang belum pulih sepenuhnya membuat rumah tangga lebih berhati-hati dalam berbelanja maupun mengambil utang.

Yusuf juga mengatakan pertumbuhan kredit industri saat ini masih banyak ditopang oleh Himbara, yang memiliki akses lebih besar ke proyek strategis pemerintah, program prioritas, dan dukungan likuiditas. Di sisi lain, bank swasta lebih banyak terekspos pada kredit konsumsi dan modal kerja korporasi murni, sehingga dalam kondisi permintaan yang melemah mereka cenderung lebih selektif dan menempatkan sebagian likuiditas pada instrumen alternatif berisiko rendah.

Dampak bagi strategi bank dan prospek industri

Menurut Yusuf, kondisi ini lebih mencerminkan pilihan strategi ketimbang pelemahan fundamental bank. Ia memperkirakan dominasi Himbara berlanjut selama belanja pemerintah dan program prioritas tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi, serta selama permintaan kredit konsumsi belum pulih signifikan.

Dari sisi industri, Bank Syariah Indonesia menyatakan tetap menjaga ekspansi pembiayaan secara selektif agar sejalan dengan profil risiko, risk appetite, dan tata kelola. Hingga April 2026, BSI menyalurkan pembiayaan Rp 332 triliun, tumbuh 15,59% yoy, didorong permintaan dari segmen konsumer, ritel, dan sektor produktif termasuk UMKM.

KB Bank juga menyebut penyaluran kredit dilakukan lebih selektif di tengah dinamika ekonomi makro beberapa bulan terakhir. Hingga Mei 2026, kredit KB Bank mencapai Rp 43,52 triliun atau tumbuh 3,83% yoy, dan bank menyatakan angka itu masih sesuai dengan target dalam Rencana Bisnis Bank sambil memperkuat pemantauan kualitas aset, early warning system, dan penyelesaian kredit bermasalah.

Perbedaan laju pertumbuhan antarbank terlihat jelas di kelompok bank besar, dengan kredit Bank Central Asia tumbuh 4,85% yoy dan Bank Mandiri melonjak 20,56% yoy. Kesenjangan itu menegaskan pemulihan kredit masih bergantung pada komposisi portofolio, akses terhadap proyek pemerintah, dan kehati-hatian masing-masing bank dalam menjaga kualitas pertumbuhan.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit perbankan Mei 2026, kami mencatat kredit tumbuh 11,51% YoY, terutama ditopang kredit investasi, sementara modal kerja dan konsumsi naik lebih moderat. Kami juga menyoroti indikator likuiditas dan ketahanan perbankan—mulai dari undisbursed loan yang besar, pertumbuhan DPK, hingga CAR yang tinggi dan NPL yang rendah—sebagai bantalan menghadapi risiko eksternal.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.