Bank Mandiri nilai kualitas kredit tetap terjaga usai BI Rate naik ke 5,75 persen
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 5,75 persen mendorong perbankan menyesuaikan respons terhadap biaya dana dan profil risiko kredit. Di tengah pengetatan moneter itu, Bank Mandiri menyatakan portofolio kreditnya masih sehat dengan rasio kredit bermasalah yang tetap rendah.
Sorotan
- Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen, tetapi Bank Mandiri menilai portofolio kredit tetap sehat dan terkendali.
- Non-performing loan (NPL) Bank Mandiri tercatat stabil di level 0,97 persen tanpa tanda-tanda pemburukan kualitas kredit debitur per data internal terbaru.
- Manajemen Bank Mandiri menegaskan akan tetap adaptif dan menjaga kualitas aset seiring pengetatan moneter oleh bank sentral serta perubahan suku bunga.
Respons Bank Mandiri atas kenaikan suku bunga
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyatakan kualitas portofolio kredit perseroan tetap berada dalam kondisi sehat dan terkendali setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, mengatakan indikator rasio kredit bermasalah atau non-performing loan perseroan berada di level aman. Berdasarkan data internal terbaru, manajemen belum melihat tanda-tanda pemburukan kolektibilitas dari para debitur.
Riduan menyebut NPL Bank Mandiri berada di level 0,97 persen. Ia juga mengatakan hingga saat ini tren vintage atau analisis kualitas kredit masih menunjukkan kondisi yang baik.
Dampak kebijakan moneter bagi operasional bank
Manajemen Bank Mandiri memandang keputusan pengetatan moneter oleh bank sentral sebagai bagian dari dinamika pasar makro yang wajar. Perseroan menegaskan akan tetap adaptif dalam menyelaraskan operasional bisnis dengan arah kebijakan moneter nasional.Menurut Riduan, mekanisme kebijakan suku bunga tersebut merupakan hal yang harus diikuti oleh industri perbankan. Sikap itu menunjukkan fokus Bank Mandiri untuk menjaga kualitas aset di tengah perubahan lingkungan suku bunga.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang kenaikan BI Rate Bank Indonesia ke 5,75% pada pertengahan Juni 2026, kami menyoroti bahwa pengetatan moneter dipicu tekanan global dan membuat ruang penurunan suku bunga pada sisa 2026 menjadi terbatas. Kami juga membahas potensi dampaknya pada sektor perbankan, termasuk risiko kenaikan cost of fund, penyesuaian suku bunga kredit, serta dinamika likuiditas, meski fundamental perbankan dinilai tetap cukup solid.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto