Saham bank besar Indonesia melemah setelah BI menaikkan suku bunga acuan

Saham bank besar Indonesia melemah setelah BI menaikkan suku bunga acuan
Bank besar tertekan BI

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia kembali menekan saham perbankan besar pada penutupan perdagangan di Jakarta, ketika investor menilai dampaknya terhadap biaya dana dan pertumbuhan kredit. Di saat yang sama, analis melihat tekanan valuasi saham bank cenderung terbatas karena pasar sudah mengantisipasi pengetatan moneter dalam beberapa bulan terakhir.

Sorotan

  • Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, memicu penurunan saham bank besar seperti BBRI turun 3,90% ke Rp 2.960 dan BBCA turun 3,19% ke Rp 6.075.
  • Kenaikan suku bunga meningkatkan tekanan pada cost of fund dan margin bunga bersih bank, namun dampaknya dinilai terbatas karena pasar telah mengantisipasi siklus pengetatan.
  • Pertumbuhan kredit perbankan tetap kuat sebesar 11,51% yoy pada Mei 2026, RHB Sekuritas pertahankan rekomendasi overweight sektor perbankan dengan top picks BBCA, BMRI, BBRI, BRIS, dan BBTN.

Dampak kenaikan BI Rate pada saham dan likuiditas bank

KONTAN melaporkan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, dengan suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%. Kebijakan itu ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global akibat konflik Timur Tengah, sekaligus mempertahankan inflasi dalam sasaran 2,5% plus minus 1%.

Pada penutupan perdagangan Kamis, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin pelemahan setelah turun 3,90% ke Rp 2.960 per saham. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 3,19% ke Rp 6.075, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 1,84% ke Rp 3.730, sedangkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,45% ke Rp 4.470 per saham.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai kenaikan suku bunga memang menambah tekanan pada industri perbankan melalui kenaikan cost of fund dan potensi penyempitan margin bunga bersih atau NIM. Namun ia mengatakan dampak terhadap harga saham bank relatif terbatas karena pasar sudah mengantisipasi siklus pengetatan tersebut, sementara arah pergerakan saham berikutnya lebih ditentukan oleh pertumbuhan kredit, kualitas aset, stabilitas rupiah, dan potensi arus dana asing ke pasar domestik.

Menurut Andrey, kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam di perbankan domestik juga berpotensi memperkuat likuiditas industri. Selama pertumbuhan kredit dan kualitas aset tetap terjaga, ia menilai dampak kenaikan suku bunga terhadap valuasi saham bank biasanya hanya bersifat sementara.

Rekomendasi analis dan prospek sektor perbankan

Optimisme terhadap sektor perbankan turut ditopang oleh pertumbuhan kredit yang masih kuat. Bank Indonesia mencatat kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan pada Mei 2026, lebih tinggi dari 9,89% pada April 2026, dengan kredit investasi naik 21,95%, kredit modal kerja 8,09%, dan kredit konsumsi 5,89%, sementara proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini tetap di kisaran 8% hingga 12%.

Dari sisi strategi investasi, Andrey menempatkan BBCA sebagai pilihan paling defensif karena struktur pendanaannya dinilai sangat kuat dengan rasio dana murah atau CASA sekitar 85%. Untuk investor yang lebih agresif, ia memilih BMRI, BBRI, dan BBTN untuk perdagangan jangka pendek, sementara RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan dengan top picks BMRI, BBRI, BRIS, dan BBTN, serta tetap merekomendasikan beli pada BBCA dengan target harga Rp 8.650 per saham.

Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan respons negatif pasar terhadap kenaikan BI Rate tergolong wajar karena investor mencemaskan perlambatan pertumbuhan kredit dan kenaikan risiko kredit bermasalah. Meski begitu, ia menegaskan hubungan kenaikan suku bunga dan saham bank tidak selalu negatif, karena setelah pasar melihat margin bunga tetap sehat dan rasio kredit bermasalah terkendali, valuasi biasanya mulai pulih.

Menurut Hendra, BBCA tetap menjadi bank paling defensif berkat dominasi dana murah, BBRI menawarkan potensi pemulihan lebih besar bila kualitas kredit mikro tetap terjaga, dan BMRI memiliki fondasi bisnis yang kuat dari segmen korporasi serta komersial yang terdiversifikasi. Ia juga menyebut BBNI sebagai kuda hitam karena valuasinya relatif lebih murah dibandingkan bank besar lain, sementara fokus investor kini mengarah pada kemampuan bank menjaga NIM dan rasio kredit bermasalah di tengah kenaikan biaya dana.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang kenaikan BI Rate Bank Indonesia ke 5,75% pada pertengahan Juni 2026, kami menyoroti bahwa pengetatan moneter ini dipicu tekanan global dan membuat peluang penurunan suku bunga pada sisa 2026 menjadi terbatas. Kami juga membahas potensi dampaknya pada likuiditas perbankan—di tengah kebutuhan pendanaan pemerintah dan jatuh tempo surat berharga—serta risiko kenaikan biaya dana dan suku bunga kredit meski fundamental perbankan dinilai tetap cukup kuat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.