Indonesia dorong investasi transportasi umum di seluruh ibu kota provinsi
Penyebaran pertumbuhan ekonomi ke luar Pulau Jawa meningkatkan kebutuhan sistem mobilitas perkotaan yang lebih andal di berbagai pusat aktivitas baru. Di tengah kenaikan urbanisasi dan kepemilikan kendaraan pribadi, pengembangan transportasi umum dinilai menjadi investasi publik strategis untuk produktivitas, kualitas lingkungan, dan akses masyarakat.
Sorotan
- Perluasan sistem transportasi umum ke 38 ibu kota provinsi Indonesia diperkirakan membutuhkan investasi Rp 35 triliun hingga Rp 70 triliun selama sepuluh tahun.
- Transportasi umum di kota-kota Indonesia yang masih tertinggal memicu kemacetan, konsumsi energi, serta penurunan daya saing ekonomi perkotaan.
- Proyek Indonesia Mass Transit (MASTRAN) di Bandung dan Medan yang didukung World Bank menjadi model pembangunan infrastruktur transportasi massal sekaligus penguatan kelembagaan.
Kebutuhan investasi dan pengembangan jaringan
Seperti ditulis Kompas Indeks News Indonesia, transportasi umum di banyak kota masih tertinggal dari laju pertumbuhan penduduk dan kendaraan pribadi, sehingga warga kerap bergantung pada sepeda motor dan mobil karena minimnya pilihan yang memadai.Kondisi itu mendorong kemacetan yang lebih sering, konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi, penurunan kualitas udara, serta hilangnya waktu produktif di jalan. Dalam jangka panjang, tekanan tersebut meningkatkan biaya logistik, memperbesar konsumsi energi, dan mengurangi daya saing kota.
Artikel ini menyoroti bahwa perluasan sistem transportasi umum ke 38 ibu kota provinsi berpotensi membentuk jaringan mobilitas perkotaan yang lebih merata. Berdasarkan berbagai perhitungan kebutuhan investasi di sejumlah kota, pembangunan sistem itu diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 35 triliun hingga Rp 70 triliun dalam periode sepuluh tahun.
Dampak ekonomi dan pelajaran dari Bandung-Medan
Transportasi umum dalam pandangan ini tidak berhenti pada pembangunan koridor, armada, atau subsidi operasional, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen untuk mempercepat mobilitas, meningkatkan produktivitas ekonomi, dan memperluas akses warga terhadap peluang pendidikan maupun pekerjaan.Salah satu contoh yang disebut adalah proyek Indonesia Mass Transit, MASTRAN, yang didukung World Bank untuk pengembangan sistem Bus Rapid Transit di kawasan metropolitan Bandung dan Medan. Program tersebut mencakup pembangunan infrastruktur fisik, penguatan kelembagaan, sistem operasional, dan tata kelola, yang menunjukkan bahwa layanan angkutan massal yang berkelanjutan memerlukan institusi pengelola yang profesional selain armada dan halte.
Pengalaman di Bandung dan Medan menjadi gambaran bahwa pengembangan transportasi umum dapat dilakukan secara sistematis dan terukur. Jika model serupa diperluas secara konsisten, manfaatnya dapat menjangkau kota-kota regional seperti Makassar, Medan, Palembang, Batam, Samarinda, dan Denpasar yang kini berkembang sebagai simpul ekonomi dengan kebutuhan mobilitas yang terus meningkat.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang serapan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum yang cepat, kami menyoroti fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur permanen dibanding solusi darurat agar manfaatnya lebih panjang dan tidak memicu perbaikan berulang. Kami juga mencatat keterbatasan jembatan darurat pascabanjir di Aceh yang hanya mampu menahan beban hingga 20 ton, sehingga solusi permanen diprioritaskan untuk menjaga kelancaran distribusi logistik di jalur strategis Medan–Banda Aceh.
Berita Transportation Terbaru
- Forex
- Crypto