Di tengah tekanan geopolitik Timur-Tengah dan perlambatan perdagangan global, PT Asuransi Asei Indonesia menyiapkan sejumlah langkah untuk memperbaiki kinerja lini asuransi marine cargo pada 2026. Perusahaan melihat peluang pemulihan pada semester II-2026 jika jalur pelayaran kembali normal dan aktivitas ekspor-impor menguat.
Sorotan
- Asei akan memperluas penetrasi asuransi marine cargo pada 2026 melalui kolaborasi logistik, digitalisasi polis, dan strategi cross-selling ke nasabah korporasi.
- Konflik di Timur-Tengah dan perlambatan perdagangan global menekan pertumbuhan premi marine cargo pada semester I-2026, namun peluang pemulihan muncul jika situasi geopolitik membaik paruh kedua tahun.
- Asei mencatat pendapatan premi bruto Rp 469,12 miliar per April 2026; klaim asuransi marine cargo industri naik 6,7% menjadi Rp 357 miliar meski pendapatan premi turun 12,6% menjadi Rp 1,49 triliun per Maret 2026.
Rencana ekspansi dan penguatan proses bisnis
Kepada KONTAN, Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Dody Dalimunthe mengatakan perseroan akan memperluas penetrasi pada segmen ekspor nonmigas, memanfaatkan program hilirisasi industri yang mendorong aktivitas pengiriman barang, serta mengembangkan digitalisasi proses penerbitan polis dan klaim marine cargo.Asei juga memperkuat kolaborasi dengan pelaku logistik dan perdagangan internasional. Selain itu, perusahaan akan melakukan cross-selling kepada nasabah korporasi yang sudah memiliki produk asuransi properti, engineering, atau kredit, sambil menjaga kualitas underwriting dan pengelolaan risiko agar pertumbuhan premi tetap diikuti profitabilitas yang sehat.
Dody menyebut lini asuransi pengangkutan, atau marine cargo, belum terlalu dominan dalam portofolio bisnis Asei. Menurut dia, pasar Indonesia masih banyak ditopang aktivitas perdagangan domestik dan intra-Asia, tetapi segmen pengiriman internasional menawarkan ruang pertumbuhan lebih besar karena nilai barang yang diangkut relatif lebih tinggi.
Tekanan industri dan peluang pemulihan
Sepanjang semester I-2026, bisnis asuransi marine cargo masih menghadapi tantangan akibat perlambatan perdagangan global, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian geopolitik. Konflik di Timur-Tengah yang mengganggu jalur pelayaran melalui Selat Hormuz juga memengaruhi aktivitas pengangkutan dan pada akhirnya menekan pertumbuhan premi marine cargo.Jika kondisi geopolitik Timur-Tengah terus membaik dan aktivitas pelayaran kembali normal pada semester II-2026, Asei menilai lini marine cargo berpeluang mencatat pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kuartal pertama tahun ini. Perbaikan itu terutama dapat datang dari kenaikan aktivitas ekspor-impor dan meredanya tekanan biaya logistik global.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs resminya, Asei membukukan pendapatan premi bruto sebesar Rp 469,12 miliar per April 2026. Secara industri, data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat klaim asuransi marine cargo naik 6,7% secara tahunan menjadi Rp 357 miliar per Maret 2026, sementara pendapatan preminya terkontraksi 12,6% secara tahunan menjadi Rp 1,49 triliun.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pembukaan kembali Selat Hormuz, kami membahas bagaimana normalisasi jalur ini sempat memberi sentimen positif bagi pelayaran global dan asuransi marine cargo di Indonesia. Namun pemulihan dinilai tidak instan karena pelaku industri masih menunggu kepastian keamanan rute dan meredanya risiko perang, sanksi, serta gangguan operasional, sehingga seleksi risiko dan evaluasi cakupan war risk tetap diperketat.
Berita Supply Chain Terbaru
- Forex
- Crypto