PLN hadapi defisit kontrak batu bara 2026 saat pemadaman bergilir jadi sorotan

PLN hadapi defisit kontrak batu bara 2026 saat pemadaman bergilir jadi sorotan
PLN krisis batu bara 2026

Gangguan pasokan listrik di sejumlah wilayah Indonesia mendorong perhatian baru pada kesiapan pasokan energi primer untuk sistem kelistrikan nasional. Pemerintah mengakui kebutuhan batu bara PLN untuk 2026 belum sepenuhnya tertutup kontrak, di tengah upaya menekan dampak pemadaman bergilir di Pulau Jawa.

Sorotan

  • PLN menghadapi defisit kontrak batu bara 2026 sebesar 18 hingga 20 juta ton dari kebutuhan 154 juta ton, dengan kontrak baru tercapai 134 juta ton.
  • Pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto fokus mengkaji solusi untuk menutup kekurangan pasokan batu bara guna menjaga keandalan listrik nasional.
  • Pemadaman listrik bergilir di Jawa mulai berkurang sejak pekan lalu karena perbaikan pasokan energi primer dan pemulihan pembangkit mitra PLN yang sebelumnya mengalami gangguan.

Kesenjangan pasokan batu bara untuk 2026

Seperti dilaporkan Kompas.com, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI M Qodari menyatakan stok batu bara untuk kebutuhan listrik PLN pada 2026 masih kurang ketika menanggapi isu pemadaman listrik bergilir di beberapa wilayah Indonesia. Ia mengulang penjelasan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia bahwa kebutuhan batu bara PLN pada 2026 mencapai 154 juta ton, sementara realisasi kesepakatan kontrak baru 134 juta ton.

Qodari mengatakan masih ada kekurangan sekitar 18 juta ton hingga 20 juta ton. Meski begitu, ia menilai kondisi tersebut tidak menjadi masalah serius karena Indonesia merupakan produsen batu bara, dan kebutuhan PLN merupakan rutinitas tahunan yang biasanya disiapkan dalam jangka panjang.

Ia menambahkan pemerintah masih menunggu solusi yang akan dikaji untuk menutup kesenjangan pasokan tersebut. Menurut Qodari, persoalan ini juga menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.

Dampak pada sistem kelistrikan Jawa

Di saat yang sama, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa mulai dapat dikurangi karena kondisi sistem kelistrikan membaik sejak Minggu. Ia menyatakan perbaikan itu terjadi setelah pasokan energi primer yang sesuai dengan spesifikasi kebutuhan pembangkit milik PLN maupun Independent Power Producer mulai mengalir pada pekan lalu.

Darmawan juga meminta maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan akibat pemadaman bergilir tersebut. Ia menjelaskan pada Jumat sebelumnya terdapat dua pembangkit besar milik mitra PLN yang mengalami kendala teknis dan terpaksa keluar dari sistem, sehingga ketahanan sistem kelistrikan di Jawa sempat tertekan.

Perkembangan ini menunjukkan tantangan sektor ketenagalistrikan tidak hanya terkait kecukupan volume pasokan batu bara, tetapi juga kecocokan spesifikasi energi primer dan keandalan pembangkit. Bagi pasar energi dan utilitas nasional, percepatan penutupan kontrak pasokan serta pemulihan unit pembangkit menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas operasi listrik dalam jangka dekat.

Pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa menjadi fokus liputan kami sebelumnya, yang dipicu gangguan pasokan medium rank coal (MRC) untuk sejumlah PLTU serta kendala teknis pada dua unit pembangkit besar milik IPP. Dalam ulasan tersebut, PLN menekankan percepatan pemulihan pembangkit, percepatan kontrak dan logistik batu bara kalori menengah, serta koordinasi dengan Kementerian ESDM untuk menormalkan pasokan dan memperkuat keandalan sistem Jawa.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.