Kredit konstruksi perbankan tumbuh tinggi, risiko NPL naik di tengah BI Rate 5,75%
Pertumbuhan kredit konstruksi perbankan masih kuat hingga April 2026, ditopang proyek strategis nasional, infrastruktur dasar, kawasan industri, hilirisasi, dan proyek properti yang sudah memiliki komitmen pembiayaan. Namun, kenaikan BI Rate ke 5,75% meningkatkan kehati-hatian bank karena biaya dana naik dan kualitas aset sektor ini tetap menghadapi tekanan.
Sorotan
- Outstanding kredit konstruksi perbankan per April 2026 mencapai Rp 582,4 triliun, naik 44,73% yoy, didorong pertumbuhan investasi 64,2% yoy.
- Kenaikan BI Rate ke 5,75% berpotensi memperlambat penyaluran kredit konstruksi pada semester II-2026 karena bank menjadi lebih selektif menghadapi risiko.
- Rasio NPL kredit konstruksi perumahan naik menjadi 8,18% per April 2026 dari 7,57% setahun sebelumnya, mendorong perlunya evaluasi proyek lebih ketat.
Pertumbuhan kredit ditopang proyek strategis
KONTAN Indonesia melaporkan, Bank Indonesia mencatat outstanding kredit konstruksi perbankan hingga April 2026 mencapai Rp 582,4 triliun, naik 44,73% secara tahunan. Berdasarkan penggunaannya, kredit konstruksi untuk investasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 64,2% yoy, sementara kredit konstruksi untuk modal kerja tumbuh 29,3% yoy.Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan, menilai laju pertumbuhan itu masih ditopang proyek strategis nasional. Selain itu, pembiayaan juga banyak mengalir ke proyek pembangunan infrastruktur dasar, kawasan industri, hilirisasi, serta proyek properti yang telah memiliki komitmen pembiayaan sejak awal.
Trioksa mengatakan kenaikan BI Rate ke 5,75% berpotensi memengaruhi penyaluran kredit konstruksi pada semester II-2026. Menurut dia, kenaikan suku bunga meningkatkan biaya dana perbankan dan mendorong bank menjadi lebih selektif, terutama terhadap proyek dengan profil risiko tinggi atau arus kas yang belum jelas.
Dampak bagi kualitas aset perbankan
Di sisi risiko, rasio kredit bermasalah atau NPL untuk kredit konstruksi perumahan tercatat 8,18% pada April 2026, naik dari 7,57% pada April 2025. Kondisi ini mendorong perlunya evaluasi kelayakan proyek yang lebih ketat agar kualitas kredit tetap terjaga dan rasio NPL dapat dikendalikan.Direktur Manajemen Risiko PT Bank Tabungan Negara Tbk, Setiyo Wibowo, mengatakan perseroan kini lebih selektif dalam menyalurkan kredit konstruksi, khususnya untuk proyek dengan fundamental yang kuat. Dalam kondisi suku bunga tinggi, BTN menilai kualitas pengembang, progres pembangunan, kelayakan proyek, dan kemampuan arus kas sebagai faktor utama dalam penilaian pembiayaan.
Setiyo menambahkan rasio NPL BTN pada sektor kredit konstruksi saat ini masih terjaga dengan baik. Menurut dia, tekanan NPL terutama berasal dari kredit lama, sedangkan kredit baru yang disalurkan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kualitas yang lebih baik, meski pertumbuhan kredit konstruksi hingga akhir 2026 diperkirakan tetap positif dengan laju yang lebih moderat dibanding awal tahun.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan likuiditas perbankan pada semester II-2026, kami menyoroti bagaimana kenaikan BI Rate ke 5,75% dan ketersediaan dana yang terbatas berpotensi menahan pertumbuhan kredit. Kami juga membahas kenaikan loan to deposit ratio (LDR) serta dampaknya pada biaya dana, NIM, dan profitabilitas, dengan bank besar dinilai relatif lebih tahan dibanding bank kecil.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto