Ashutosh Sureka

Jakarta hadapi lonjakan PKL di tengah sulitnya serapan kerja formal

Jakarta hadapi lonjakan PKL di tengah sulitnya serapan kerja formal
PKL Jakarta melonjak tajam

Menjamurnya pedagang kaki lima di Jakarta menunjukkan tekanan yang makin besar pada pasar kerja perkotaan, meski ibu kota tetap menjadi pusat ekonomi Indonesia. Fenomena ini mencerminkan sulitnya warga, termasuk para perantau, memperoleh pekerjaan formal dan mendorong lebih banyak orang bertahan hidup di sektor informal.

Sorotan

  • Jumlah PKL di Jakarta melonjak akibat semakin sulitnya akses ke lapangan kerja formal, terutama bagi kelompok menengah ke bawah yang tidak memenuhi kualifikasi sektor jasa.
  • Maraknya pemutusan hubungan kerja dalam beberapa tahun terakhir mendorong bahkan warga berpendidikan memilih pekerjaan informal seperti PKL demi memperoleh pendapatan.
  • Pertumbuhan PKL menambah beban tata ruang kota Jakarta dengan trotoar semakin sesak, sehingga memperumit upaya penataan kawasan perkotaan.

Tekanan pasar kerja dan pergeseran ke sektor informal

Seperti dilaporkan Kompas.com, Senior Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, INDEF, Tauhid Ahmad, menilai maraknya PKL di Jakarta terjadi karena pekerjaan di sektor formal semakin sulit diakses. Ia mengatakan Jakarta yang kini lebih bertumpu pada sektor jasa, bukan lagi industri, menuntut kualifikasi yang tinggi.

Di sisi lain, kelompok masyarakat menengah ke bawah kesulitan memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan tersebut. Kondisi itu membuat banyak pencari kerja tidak terserap oleh lapangan kerja yang tersedia dan akhirnya beralih ke sektor informal, termasuk berdagang di trotoar.

Tauhid juga menyebut maraknya pemutusan hubungan kerja dalam beberapa tahun terakhir ikut memperbesar arus masuk ke pekerjaan informal. Menurutnya, bahkan warga yang memiliki kualifikasi cukup baik pun tidak selalu mendapatkan pekerjaan yang sesuai, sehingga memilih menjadi PKL sebagai cara tercepat memperoleh penghasilan.

Dampak bagi ruang kota dan ekonomi warga

Sektor informal seperti PKL tetap berperan sebagai penyangga sementara bagi pendapatan warga yang kehilangan pekerjaan formal. Bagi sebagian orang, berdagang di ruang publik menjadi pilihan paling mudah untuk mempertahankan hidup di Jakarta.

Namun pertumbuhan jumlah PKL juga menambah tekanan pada tata ruang kota. Trotoar yang semestinya digunakan pejalan kaki menjadi semakin sesak, bahkan di sejumlah titik sulit dilintasi karena dipenuhi lapak pedagang.

Kondisi itu menciptakan dilema bagi penataan Jakarta sebagai kota global. Di satu sisi, keberadaan PKL membantu warga bertahan saat akses kerja formal terbatas, tetapi di sisi lain penggunaan fasilitas publik yang terus meluas memperumit upaya penataan kawasan perkotaan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang evaluasi program magang nasional, kami menyoroti temuan pemerintah bahwa uang saku magang membantu kondisi ekonomi keluarga peserta dan tingkat kepuasan program cenderung positif. Evaluasi puluhan ribu alumni juga menunjukkan adanya peluang serapan kerja yang membaik, termasuk tawaran kerja langsung dari sektor dengan permintaan tinggi setelah magang.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.