Kredit properti Indonesia mempertahankan pertumbuhan dua digit pada Mei 2026

Kredit properti Indonesia mempertahankan pertumbuhan dua digit pada Mei 2026
Properti tetap tumbuh kuat

Menjelang akhir kuartal II-2026, pembiayaan perbankan ke sektor properti di Indonesia masih tumbuh kuat meski lajunya sedikit melambat dibanding bulan sebelumnya. Kinerja ini terjadi saat pertumbuhan kredit perbankan secara industri juga berlanjut, dengan segmen real estate tetap menguat sementara KPR, KPA, dan kredit konstruksi kehilangan sebagian momentumnya.

Sorotan

  • Kredit properti nasional tumbuh 17,2% yoy pada Mei 2026 menjadi Rp 1.690,8 triliun, sedikit melambat dari 17,5% yoy di April 2026.
  • Segmen kredit real estate mempercepat pertumbuhan menjadi 14,5% yoy menjadi Rp 272,5 triliun, sementara kredit konstruksi naik 44,6% yoy menjadi Rp 570,5 triliun.
  • Kredit konsumsi melambat ke 5,8% yoy menjadi Rp 2.383,1 triliun, namun kredit modal kerja dan investasi tumbuh kuat 7,9% dan 20,5% yoy pada Mei 2026.

Rincian pertumbuhan kredit properti Mei 2026

Kredit perbankan secara nasional terus mencatat ekspansi pada Mei 2026, dan menurut laporan analisis uang beredar Bank Indonesia yang dirilis Selasa, 23 Juni 2026 oleh Kontan, kredit properti tumbuh 17,2% secara tahunan menjadi Rp 1.690,8 triliun.

Laju tersebut sedikit lebih lambat dibanding pertumbuhan 17,5% yoy pada April 2026. Di dalamnya, kredit real estate menjadi satu-satunya subsektor yang mempercepat pertumbuhan, naik 14,5% yoy menjadi Rp 272,5 triliun, dari 13,9% yoy pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, kredit pemilikan rumah dan apartemen tumbuh 4,7% yoy menjadi Rp 847,9 triliun, sedikit di bawah 4,8% yoy pada April 2026. Kredit konstruksi masih mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 44,6% yoy menjadi Rp 570,5 triliun, namun tetap melambat dari 46% yoy pada bulan sebelumnya.

Dampak pada konsumsi dan struktur kredit industri

Perlambatan KPR berjalan searah dengan tren kredit konsumsi yang lebih lemah. Pada Mei 2026, kredit konsumsi tumbuh 5,8% yoy menjadi Rp 2.383,1 triliun, turun dari 6% yoy pada April 2026, sementara kredit multiguna melambat menjadi 8,2% yoy dari 8,5% yoy.

Di sisi lain, kredit kendaraan bermotor masih terkontraksi 9,4% yoy menjadi Rp 131,1 triliun, lebih dalam dibanding koreksi 9% yoy pada bulan sebelumnya. Berbeda dengan segmen konsumsi, kredit modal kerja justru tumbuh 7,9% yoy menjadi Rp 3.702,5 triliun setelah pada April 2026 naik 5,8% yoy, sedangkan kredit investasi meningkat 20,5% yoy menjadi Rp 2.673,4 triliun dari 18,4% yoy, menunjukkan penopang utama pertumbuhan kredit industri kini lebih banyak datang dari aktivitas usaha dan investasi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada Mei 2026, kami mencatat penyaluran kredit naik 10,8% yoy menjadi Rp 8.759 triliun, terutama ditopang kredit korporasi dan kredit investasi yang menguat. Kami juga menyoroti bahwa kredit properti tetap tumbuh tinggi 17,2% yoy—dengan kredit konstruksi melonjak 44,6%—sementara segmen konsumsi cenderung melambat dan kredit UMKM mulai menunjukkan pemulihan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.