Biaya overhead perbankan naik pada April 2026, investasi digital menekan efisiensi industri

Biaya overhead perbankan naik pada April 2026, investasi digital menekan efisiensi industri
Overhead perbankan melonjak

Persaingan yang semakin ketat di industri perbankan mendorong bank menambah belanja operasional pada awal kuartal II 2026. Kenaikan biaya ini terlihat di sebagian besar kelompok bank, dengan investasi teknologi, keamanan siber, dan kebutuhan tenaga kerja digital menjadi pendorong utama.

Sorotan

  • Bank Indonesia melaporkan rasio biaya overhead perbankan naik ke 3,43% pada April 2026, didorong belanja barang, jasa, dan tenaga kerja.
  • Kelompok Bank Pembangunan Daerah dan bank BUMN alami kenaikan OHC tertinggi, sementara Bank Umum Swasta Nasional menurunkan OHC ke 3,15%.
  • CIMB Niaga membukukan beban operasional Rp 2,37 triliun kuartal I-2026 naik 8,6% YoY, BCA stabil di Rp 8,5 triliun dengan rasio CIR 27,3%.

Kenaikan overhead dan pendorong utamanya

Kontan melaporkan, Bank Indonesia mencatat rasio biaya overhead industri perbankan naik menjadi 3,43% pada April 2026, dari 3,41% pada Maret 2026. Peningkatan ini terutama dipicu oleh naiknya belanja barang dan jasa, beban tenaga kerja, serta beban non-operasional.

Kenaikan OHC terjadi di mayoritas kelompok bank. Kelompok Bank Pembangunan Daerah mencatat lonjakan terbesar menjadi 3,64% dari 3,48%, disusul bank BUMN yang naik menjadi 3,66% dari 3,62%, serta Kantor Cabang Bank Asing yang meningkat menjadi 1,73% dari 1,68%. Hanya Bank Umum Swasta Nasional yang menekan biaya operasional, dengan OHC turun menjadi 3,15% dari 3,19%.

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai kenaikan biaya overhead pada kuartal II merupakan fenomena yang wajar setelah fase penyusunan strategi pada kuartal pertama. Menurut dia, percepatan transformasi digital menjadi salah satu pendorong utama, karena bank harus terus memperbarui infrastruktur teknologi, mulai dari core banking hingga aplikasi layanan nasabah, sekaligus memperkuat keamanan siber dan kepatuhan perlindungan data.

Myrdal menambahkan faktor musiman juga ikut mendorong biaya, termasuk penyesuaian gaji, pembayaran bonus kinerja, dan promosi untuk mengejar target pertumbuhan kredit pertengahan tahun. Dari sisi komponen, beban sumber daya manusia masih menjadi kontributor terbesar, terutama di tengah persaingan merekrut talenta digital seperti data scientist, cybersecurity engineer, dan digital product manager. Biaya teknologi informasi seperti cloud computing, lisensi perangkat lunak, pemeliharaan sistem, dan implementasi AI juga terus meningkat.

Dampak terhadap efisiensi dan respons bank besar

Myrdal memperkirakan laju kenaikan biaya overhead mulai melandai pada semester II 2026, karena banyak bank biasanya menahan belanja operasional dan investasi yang tidak mendesak untuk menjaga profitabilitas hingga akhir tahun. Ia menyarankan bank mengoptimalkan jaringan kantor cabang, memperluas otomatisasi proses melalui robotic process automation, serta menegosiasikan ulang kontrak vendor, sambil memperkuat pendapatan berbasis komisi agar tidak terlalu bergantung pada margin bunga yang mulai tertekan.

Sejumlah bank besar menyatakan masih mampu menjaga efisiensi meskipun kebutuhan investasi teknologi tetap tinggi. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, mengatakan biaya operasional perseroan relatif stabil karena digitalisasi menekan sebagian biaya transaksi, walau investasi pengembangan bisnis dan teknologi tetap berjalan.

Pada kuartal I-2026, CIMB Niaga membukukan beban operasional Rp 2,37 triliun, naik 8,6% secara tahunan, tetapi turun 0,5% dibandingkan kuartal sebelumnya. Rasio biaya terhadap pendapatan tercatat 46,9%, sedikit lebih tinggi dari 46% pada periode yang sama tahun lalu.

PT Bank Central Asia Tbk juga mencatat biaya operasional yang relatif stabil. Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan beban operasional perseroan hingga kuartal I-2026 sekitar Rp 8,5 triliun, relatif sama dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan rasio CIR tetap rendah di level 27,3%. Menurutnya, efisiensi ditopang oleh optimalisasi transaksi digital dan non-tunai melalui mobile banking dan internet banking, sementara BCA terus memperkuat ekosistem digital dan memodernisasi infrastruktur teknologi informasi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penyusutan margin keuntungan perbankan pada April 2026, kami menyoroti margin industri turun ke 2,19% seiring kenaikan biaya operasional yang belum sepenuhnya terimbangi penurunan biaya dana. Kami juga mencatat penurunan margin terjadi di BPD, bank BUMN, dan kantor cabang bank asing, sementara bank swasta nasional relatif bertahan berkat efisiensi—menegaskan bahwa pengendalian biaya makin krusial ketika ruang penyesuaian margin kian sempit.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.