Indonesia soroti arus keluar kekayaan sebagai tekanan pada rupiah
Pelemahan rupiah terhadap dollar U.S. kembali menjadi sorotan di tengah pembahasan pemerintah mengenai kebocoran ekonomi nasional. Presiden Prabowo Subianto menyatakan arus keluar kekayaan ke luar negeri menjadi faktor utama, seraya menegaskan pemerintah sedang memperbaiki persoalan tersebut.
Sorotan
- Prabowo menyatakan total kekayaan yang keluar selama 22 tahun mencapai 343 miliar dollar U.S. dari total inflow 436 miliar dollar U.S.
- Praktik under-invoicing disebut sebagai penyebab utama kebocoran kekayaan negara dengan kerugian mencapai 908 miliar dollar U.S. selama 34 tahun.
- Pemerintah Indonesia kini memusatkan perhatian pada peningkatan pengawasan ekspor, keakuratan pelaporan, serta penahanan nilai tambah di dalam negeri.
Data arus keluar kekayaan dan penjelasan pemerintah
Seperti dilaporkan Kompas.com, pernyataan itu disampaikan Prabowo saat penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa, 23 Juni 2026. Dalam pidatonya, ia mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terjadi karena banyak kekayaan negara mengalir ke luar negeri.Prabowo menekankan fenomena tersebut dikenal sebagai net outflow of national wealth. Ia mengatakan angka dari United Nations Comtrade yang diolah Dewan Ekonomi Nasional mendukung pandangannya mengenai kebocoran kekayaan nasional.
Menurut Prabowo, total kekayaan yang keluar selama 22 tahun mencapai 343 miliar dollar U.S. dari total inflow 436 miliar dollar U.S. Ia juga menyebut bahwa dalam rentang 42 tahun nilainya mencapai 683 miliar dollar U.S., serta menyatakan praktik under-invoicing atau laporan palsu menjadi salah satu penyebab utama kebocoran itu.
Dampak bagi ekonomi dan pengawasan perdagangan
Ia menjelaskan praktik tersebut terjadi ketika pelaku usaha melaporkan volume atau nilai ekspor lebih rendah dari transaksi sebenarnya, termasuk pada komoditas tambang. Dalam contoh yang ia sampaikan, pengusaha dapat melaporkan penjualan 500 ton padahal volume riil mencapai 1.000 ton, sehingga sebagian nilai ekonomi tidak tercatat di dalam negeri.Prabowo mengatakan kerugian dari praktik itu mencapai 908 miliar dollar U.S. selama 34 tahun, atau sekitar Rp 15.000 triliun. Ia mengibaratkan kondisi itu seperti darah yang terus keluar dari tubuh, yang pada akhirnya dapat melemahkan daya tahan ekonomi bila tidak dihentikan.
Bagi sektor perdagangan dan sumber daya, pernyataan ini menandakan fokus pemerintah pada pengawasan ekspor, akurasi pelaporan, dan penahanan nilai tambah di dalam negeri. Prabowo menegaskan persoalan tersebut kini menjadi perhatian pemerintah dan sedang diperbaiki.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah yang dikaitkan dengan arus keluar kekayaan nasional, Prabowo Subianto menilai derasnya dana dan keuntungan yang mengalir ke luar Indonesia turut menekan nilai tukar. Ia juga menyoroti praktik under-invoicing dalam pelaporan ekspor yang membuat sebagian penerimaan tidak tercatat dengan benar, sehingga manfaat ekonomi utama tidak tertahan di dalam negeri.
- Forex
- Crypto