IHSG pulih pada awal perdagangan Jakarta setelah penurunan tajam sesi sebelumnya
Pasar saham Indonesia bergerak berbalik arah pada awal perdagangan Kamis, setelah pembukaan sempat melemah dan kemudian naik 11 poin ke level 5.895. Pergerakan ini terjadi sehari setelah IHSG ditutup anjlok 3,56 persen, menandakan investor masih mencermati tekanan jual yang luas di bursa domestik.
Sorotan
- IHSG berbalik menguat 0,19 persen ke 5.895 pada awal perdagangan Kamis, 25/6/2026, setelah dibuka melemah.
- Indeks LQ45, IDXLQ45LCL, IDX30, dan IDX80 menguat masing-masing 0,59 persen, 0,56 persen, 0,73 persen, dan 0,59 persen pada pembukaan.
- Pada Rabu 24/6/2026, IHSG anjlok 3,56 persen atau 217,45 poin ke 5.883,88, dengan transaksi Rp14,73 triliun dan tekanan jual melanda 646 saham.
Pemulihan indeks pada pembukaan Kamis
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 25/6/2026, sebelum berbalik menguat 0,19 persen atau 11 poin ke level 5.895 beberapa menit setelah sesi dimulai.Pada awal perdagangan yang sama, indeks LQ45 naik 0,59 persen ke 581,584. IDXLQ45LCL menguat 0,56 persen ke 84,654, IDX30 bertambah 0,73 persen ke 329,638, dan IDX80 naik 0,59 persen ke 87,100.
Tekanan jual masih membayangi pasar
Pada perdagangan sebelumnya, Rabu 24/6/2026, IHSG ditutup melemah tajam 217,45 poin atau 3,56 persen ke level 5.883,88, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia. Sepanjang sesi itu, indeks bergerak di zona merah setelah sempat menguat pada awal perdagangan.IHSG dibuka di level 6.128,27 dan sempat menyentuh posisi tertinggi harian 6.171,38, sebelum tekanan jual mendorong indeks turun hingga level terendah 5.876,93. Nilai transaksi mencapai Rp14,73 triliun, dengan volume 24,11 miliar saham dan frekuensi 1,995 juta kali, sementara kapitalisasi pasar tercatat Rp10.315 triliun.
Tekanan jual juga terlihat merata di pasar. Sebanyak 646 saham ditutup melemah, dibandingkan 103 saham yang menguat, sementara 210 saham bergerak stagnan.
Tekanan pada saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sorotan dalam artikel kami sebelumnya, ketika aksi jual asing menekan bank-bank jumbo seperti BMRI, BBNI, BBRI, dan BBCA. Kami mengulas bagaimana pelemahan rupiah dan BI Rate yang tinggi memicu kekhawatiran pasar terhadap nilai aset serta prospek kredit, meski valuasi perbankan dinilai mulai kembali menarik setelah koreksi. Konteks ini membantu memahami mengapa tekanan jual masih membayangi pergerakan indeks, termasuk saat IHSG sempat berbalik menguat di awal perdagangan.
Berita Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto