Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Bogor hadapi kendala lapangan saat pendataan warga

Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Bogor hadapi kendala lapangan saat pendataan warga
Kendala sensus di Bogor

Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kota Bogor memperlihatkan tantangan operasional yang dihadapi petugas saat mendata rumah tangga dari rumah ke rumah. Di wilayah Pabaton, seorang petugas mengaku sempat dikejar anjing peliharaan warga dan beberapa kali menghadapi penolakan ketika meminta waktu untuk sensus.

Sorotan

  • Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Bogor menghadapi kendala seperti aksi agresif hewan peliharaan dan penolakan warga selama proses pendataan.
  • Target sensus meliputi 700 kepala keluarga di wilayah Pabaton dengan pertanyaan rinci terkait kepemilikan aset, status tempat tinggal, serta pendapatan.
  • Keberhasilan pelaksanaan sensus sangat dipengaruhi oleh kesiapan petugas menghadapi hambatan operasional maupun tingkat keterbukaan warga dalam memberikan data.

Tantangan pendataan di lapangan

Seperti dilaporkan Kompas.com, Merry, 49 tahun, yang bertugas sebagai petugas Sensus Ekonomi 2026 di wilayah Pabaton, Kota Bogor, menceritakan pengalamannya ketika mendatangi rumah warga di RW 03. Saat hendak melakukan pendataan, ia lebih dulu dihadapkan pada anjing peliharaan yang menggonggong sebelum pemilik rumah keluar menemuinya.

Merry mengatakan ia sempat dikejar dua ekor anjing, satu hingga ke gerbang rumah dan satu lagi sampai ke jalan saat kondisi lingkungan sedang sepi. Ia mengaku panik dan berlari, lalu teringat untuk berjongkok ketika dikejar anjing, hingga akhirnya hewan tersebut berhenti mengejarnya. Pemilik rumah kemudian keluar dan anjing-anjing itu kembali masuk.

Selain gangguan dari hewan peliharaan, Merry juga menyebut penolakan warga masih kerap terjadi saat sensus berlangsung. Di wilayah RW 04, ia menemukan sejumlah warga yang menolak didata tanpa memberikan alasan yang jelas, atau meminta agar pendataan dilakukan pada waktu lain, bahkan setelah petugas datang dua sampai tiga kali.

Cakupan pertanyaan dan dampak bagi pelaksanaan sensus

Merry menjelaskan bahwa ia mendapat target melakukan sensus terhadap 700 kepala keluarga di wilayah Pabaton. Dalam pelaksanaannya, ia harus mengajukan pertanyaan sesuai acuan Badan Pusat Statistik, termasuk penyesuaian data Kartu Keluarga dalam satu bangunan, kepemilikan aset di luar rumah, status kepemilikan rumah, hingga pendapatan.

Ia juga menyampaikan bahwa pertanyaan sensus mencakup rincian aset seperti kendaraan serta informasi mengenai kegiatan usaha, baik yang dijalankan di rumah maupun di lokasi lain. Kondisi di lapangan itu menunjukkan bahwa pelaksanaan sensus tidak hanya bergantung pada cakupan pertanyaan yang rinci, tetapi juga pada kesiapan petugas menghadapi hambatan operasional dan kesediaan warga memberikan data.

Pertanyaan tentang kepemilikan rekening pribadi dalam Sensus Ekonomi 2026 di Kota Bogor sebelumnya kami bahas sebagai bagian dari pendataan kondisi ekonomi rumah tangga. Dalam artikel tersebut, BPS menegaskan petugas hanya meminta konfirmasi ada atau tidaknya rekening untuk melihat indikator literasi ekonomi digital, tanpa meminta nomor rekening, guna menjaga kepercayaan dan partisipasi warga.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.