Ashutosh Sureka

Pengemudi ojol Jakarta Selatan beralih ke Pertalite setelah kenaikan harga Pertamax

Pengemudi ojol Jakarta Selatan beralih ke Pertalite setelah kenaikan harga Pertamax
Ojol pilih Pertalite hemat

Kenaikan harga Pertamax mendorong sebagian pengendara roda dua di Jakarta Selatan mengubah pola belanja bahan bakar agar biaya operasional harian tetap terjaga. Perubahan ini terutama terasa bagi pengemudi ojek online dan kurir makanan yang bergantung pada mobilitas tinggi di tengah pemasukan yang tidak stabil.

Sorotan

  • Harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 memicu pengemudi ojol dan kurir di Jakarta Selatan beralih ke Pertalite.
  • Penggunaan Pertalite menyebabkan frekuensi pengisian bahan bakar lebih sering dan perubahan pola kerja pengemudi untuk menghindari antrean di SPBU.
  • Beralihnya ke Pertalite menurunkan pengeluaran harian dari sekitar Rp 25.000 dengan Pertamax menjadi Rp 20.000 per pengisian untuk sebagian pengemudi.

Penyesuaian biaya operasional pengendara

Seperti dilaporkan Kompas.com, sejumlah pengendara motor mulai beralih ke Pertalite setelah harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250. Sukur, 48 tahun, pengemudi ojek online yang ditemui di SPBU MT Haryono, Tebet, Kamis (25/6/2026), menilai harga Pertamax saat ini tidak lagi seimbang dengan pendapatannya.

Sukur mengatakan ia langsung mengganti jenis bahan bakar sejak hari pertama kenaikan harga Pertamax agar tetap bisa bekerja sebagai pengemudi ojol. Ia menyebut pekerjaan itu kini menjadi satu-satunya sumber penghidupan setelah terkena PHK pada September 2025.

Menurut dia, penggunaan Pertalite membuat frekuensi pengisian bahan bakar menjadi lebih sering karena konsumsi dinilai lebih boros dibandingkan Pertamax. Dalam dua pekan terakhir, ia juga menyesuaikan waktu pengisian dengan menghindari jam sibuk pagi dan sore agar tidak terlalu lama mengantre di SPBU.

Dampak pada pilihan bahan bakar dan pola kerja

Sukur juga belum mempertimbangkan sepeda motor listrik untuk menunjang pekerjaannya. Ia menilai kebutuhan jarak tempuh tinggi untuk layanan ojek tidak sebanding dengan keterbatasan baterai kendaraan listrik.

Keluhan serupa disampaikan Okta, 23 tahun, seorang kurir makanan, yang menilai Pertalite lebih boros untuk pengendara dengan mobilitas tinggi. Meski begitu, ia tetap kembali memakai Pertalite karena lonjakan harga Pertamax membuat biaya harian menjadi lebih berat.

Pengemudi ojol lainnya, Harianto, 50 tahun, juga memutuskan beralih ke Pertalite karena pengeluaran pembelian bahan bakarnya menjadi sedikit lebih hemat. Ia mengatakan pengisian yang biasanya sekitar Rp 25.000 untuk Pertamax kini menjadi sekitar Rp 20.000 dengan Pertalite.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan harga Pertamax ke Rp 16.250 per liter, kami membahas bagaimana lonjakan biaya bensin sejak 10 Juni 2026 mendorong pengendara motor di Jakarta—terutama pengemudi ojek online—mengubah pola konsumsi BBM. Sejumlah pengguna beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran harian, sementara sebagian lain tetap memakai Pertamax karena mempertimbangkan performa mesin dan waktu kerja yang bisa terganggu oleh antrean.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.