Saham bank besar menguat, RHB Sekuritas pertahankan rekomendasi overweight sektor perbankan
Perdagangan saham perbankan di Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 25 Juni 2026, bergerak positif dengan kenaikan pada hampir seluruh bank berkapitalisasi besar. Penguatan ini muncul saat analis masih melihat prospek laba sektor perbankan tetap tangguh hingga tahun fiskal 2026 meski tekanan suku bunga, likuiditas, dan margin kian meningkat.
Sorotan
- Saham BBCA naik 1,69% ke Rp 6.025, BBRI naik 1,42% ke Rp 2.850, BBNI naik 0,9% ke Rp 3.350, dan BMRI naik 0,76% ke Rp 4.000 per saham pada Kamis.
- RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight sektor perbankan hingga 2026, menyoroti pertumbuhan laba yang resilien dan ekspansi kredit, serta memilih BMRI, BBRI, BRIS, dan BBTN sebagai top picks.
- RHB menyoroti tekanan margin akibat suku bunga BI dan likuiditas ketat, memprediksi BBCA dan BBTN lebih tahan, sementara pendapatan non-bunga akan menjadi penopang di tengah kondisi makro yang menantang.
Rekomendasi RHB dan pergerakan saham Kamis
Seperti diberitakan KONTAN Indonesia, saham Bank Central Asia (BBCA) memimpin penguatan kelompok bank besar dengan kenaikan 1,69% ke Rp 6.025 per saham. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 1,42% ke Rp 2.850 per saham, sementara Bank Negara Indonesia (BBNI) menguat 0,9% ke Rp 3.350 dan Bank Mandiri (BMRI) bertambah 0,76% ke Rp 4.000 per saham.Dalam riset tertanggal 24 Juni 2026, analis RHB Sekuritas Indonesia David Chong menyatakan sektor perbankan Indonesia masih memiliki prospek solid hingga tahun fiskal 2026. Ia tetap mempertahankan pandangan overweight karena pertumbuhan laba dinilai masih resilien, ditopang ekspansi kredit yang sehat, kenaikan pendapatan berbasis komisi, serta kualitas aset yang tetap terjaga.
RHB Sekuritas menempatkan BMRI, BBRI, Bank Syariah Indonesia (BRIS), dan Bank Tabungan Negara (BBTN) sebagai pilihan utama karena dinilai memiliki potensi pertumbuhan laba lebih tinggi. Pendorongnya mencakup ekspansi kredit korporasi, pembiayaan payroll, produk emas, hingga akuisisi kredit pensiun oleh BBTN, sementara BBCA tetap diposisikan sebagai pilihan defensif utama berkat kekuatan pendanaan yang dinilai paling unggul di industri.
Tekanan margin dan dampaknya bagi industri
Menurut David, fokus industri kini mulai bergeser dari risiko kredit ke tekanan net interest margin, seiring kenaikan suku bunga Bank Indonesia, tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, likuiditas yang makin ketat, serta penarikan dana pemerintah. Dalam kondisi ini, BMRI, BBRI, BBNI, dan BNGA diperkirakan lebih terpapar tekanan margin, sedangkan BBCA dan BBTN dinilai lebih tahan karena kemampuan repricing aset dan struktur portofolio yang lebih efisien.Meski latar makro menjadi lebih menantang, pertumbuhan kredit masih diproyeksikan kuat terutama pada segmen korporasi, pembiayaan produktif, dan ekosistem payroll. Strategi antarbank juga mulai berbeda, dengan BBCA dan Bank CIMB Niaga (BNGA) disebut cenderung lebih konservatif melalui fokus pada profitabilitas dan pengelolaan likuiditas, termasuk memanfaatkan imbal hasil SRBI yang menarik.
Pendapatan non-bunga diperkirakan menjadi penopang penting di tengah tekanan margin, terutama bagi bank yang memiliki ekosistem kuat seperti BBCA, BBRI, BRIS, dan BNGA. RHB Sekuritas menilai pertumbuhan profit operasional masih akan solid berkat diversifikasi pendapatan dan disiplin biaya, sementara kualitas aset sektor secara umum tetap stabil walau pembiayaan mikro BBRI dan KPR segmen bawah BBNI masih perlu dipantau.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang perlambatan kredit konsumsi pada Mei 2026, kami menyoroti bahwa pertumbuhan kredit perbankan nasional menguat tetapi lebih banyak ditopang segmen korporasi dan pembiayaan produktif, sementara permintaan kredit rumah tangga masih tertahan. Kami juga mencatat dampaknya pada bank, termasuk perbedaan kinerja kredit konsumer—misalnya penurunan di BBCA dan pertumbuhan yang masih kuat di BRIS—seiring daya beli yang belum pulih merata dan kenaikan suku bunga yang menekan segmen sensitif. Konteks ini membantu membaca rekomendasi RHB saat fokus industri mulai bergeser dari risiko kredit ke tekanan net interest margin dan strategi pendanaan/likuiditas.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto