Ashutosh Sureka

Kredit konsumsi perbankan Indonesia melambat saat pembiayaan korporasi menopang pertumbuhan

Kredit konsumsi perbankan Indonesia melambat saat pembiayaan korporasi menopang pertumbuhan
Kredit konsumsi melambat

Pertumbuhan kredit perbankan nasional pada Mei 2026 menguat, tetapi laju pembiayaan konsumsi masih tertahan di tengah pemulihan daya beli rumah tangga yang belum merata. Kondisi ini menunjukkan akselerasi kredit lebih banyak ditopang segmen korporasi dan kegiatan produktif, sementara permintaan pembiayaan untuk kebutuhan rumah tangga tetap lemah.

Sorotan

  • Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan nasional naik ke 10,8% secara tahunan pada Mei 2026, tetapi kredit konsumsi melambat menjadi 5,8%.
  • Kredit korporasi tumbuh 17,2% secara tahunan pada Mei 2026, sementara kredit perorangan hanya naik 3,4%, didorong ekspansi pembiayaan korporasi.
  • Bank Central Asia membukukan kredit konsumer turun 2% secara tahunan ke Rp 221,4 triliun sampai kuartal I-2026, berbeda dengan BSI yang naik 15,59% ke Rp 332 triliun.

Perlambatan kredit konsumsi pada Mei 2026

KONTAN Indonesia melaporkan Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan nasional mencapai 10,8% secara tahunan pada Mei 2026, lebih tinggi dari 9,4% pada April 2026. Namun, pertumbuhan itu belum tersebar merata di seluruh segmen penggunaan kredit.

Pada Mei 2026, kredit konsumsi hanya tumbuh 5,8% secara tahunan, turun dari 6% pada April 2026. Sebaliknya, kredit modal kerja tumbuh 7,9% dan kredit investasi naik 20,5%, menandakan ekspansi pembiayaan lebih kuat terjadi pada aktivitas produktif.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan akselerasi kredit saat ini terutama berasal dari penyaluran kepada korporasi, bukan rumah tangga. Data Bank Indonesia menunjukkan kredit korporasi tumbuh 17,2% secara tahunan pada Mei 2026, sedangkan kredit perorangan hanya naik 3,4%.

Menurut Yusuf, segmen yang paling lemah berada pada kredit konsumsi untuk pembelian rumah, kendaraan, dan kebutuhan multiguna. Ia menilai kenaikan BI Rate menjadi 5,75% menambah tekanan pada segmen yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga ini, sehingga keluarga cenderung lebih berhati-hati mengambil pembiayaan jangka panjang.

Dampak pada perbankan dan prospek industri

Yusuf juga mencermati tambahan dana musiman dari awal tahun, termasuk tunjangan hari raya, mulai habis terpakai pada kuartal II-2026. Dalam beberapa waktu terakhir, pertumbuhan upah riil tertinggal dari inflasi, sehingga ruang belanja rumah tangga menyempit dan pertumbuhan kredit konsumsi hingga akhir 2026 diperkirakan tetap relatif landai.

Dari sisi bank, perlambatan terlihat pada PT Bank Central Asia Tbk yang mencatat kredit konsumer Rp 221,4 triliun hingga kuartal I-2026, turun 2% secara tahunan. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn, mengatakan pertumbuhan kredit konsumer sangat bergantung pada kondisi perekonomian, meski kelompok pinjaman konsumer lain yang didominasi kartu kredit masih tumbuh 6,8% menjadi Rp 25,1 triliun.

Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk masih mencatat kinerja lebih kuat pada pembiayaan konsumer. Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar, menuturkan hingga April 2026 segmen konsumer menyumbang sekitar 40% dari total pembiayaan BSI, sementara total pembiayaan perseroan tumbuh 15,59% secara tahunan menjadi Rp 332 triliun.

BSI menyatakan tetap mendorong pembiayaan konsumer dengan pengelolaan risiko yang konsisten, terutama pada pembiayaan perumahan, otomotif, mitraguna, dan pensiun. Perbedaan kinerja antarbank ini menunjukkan permintaan kredit konsumsi belum pulih merata, meski perbankan nasional masih membukukan pertumbuhan total kredit yang kuat.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang peringatan OJK terhadap risiko penurunan daya beli dan ancaman PHK, kami mengulas bahwa tekanan tersebut dapat meningkatkan risiko kredit—terutama pada segmen UMKM dan kredit konsumsi yang paling sensitif terhadap kondisi ekonomi rumah tangga. Meski begitu, per April 2026 OJK menilai indikator perbankan seperti NPL, likuiditas, dan permodalan masih relatif terjaga, namun bank tetap diminta lebih selektif dan memperkuat mitigasi risiko melalui stress test.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.