RHB Sekuritas pangkas target harga BBNI, rekomendasi beli dipertahankan

RHB Sekuritas pangkas target harga BBNI, rekomendasi beli dipertahankan
RHB pangkas target BBNI

Tekanan pada saham perbankan besar mendorong perhatian pasar ke prospek PT Bank Negara Indonesia Tbk setelah harga sahamnya turun paling dalam di antara bank-bank utama lainnya pada perdagangan Jumat siang. Di tengah perkiraan margin bunga bersih yang makin tertekan pada paruh kedua 2026, potensi kenaikan harga dan imbal hasil dividen BBNI masih dinilai menopang pandangan positif terhadap saham ini.

Sorotan

  • RHB Sekuritas Indonesia memangkas target harga BBNI menjadi Rp 4.560 dari Rp 5.250 namun mempertahankan rekomendasi beli, dengan estimasi dividend yield 11% pada 2026.
  • Saham BBNI turun 3,58% ke Rp 3.230 pada 26 Juni 2026, sementara proyeksi laba bersih 2026-2028 direvisi turun masing-masing 3%, 6%, dan 7% karena tekanan NIM dan risk-free rate lebih tinggi.
  • Kredit BBNI tumbuh 16% yoy hingga Mei 2026, loan to deposit ratio menurun ke 88,4%, sementara NIM diproyeksikan berada di batas bawah target 3,5%-3,8% amid biaya dana naik.

Revisi target harga dan prospek kinerja 2026

KONTAN Indonesia melaporkan, analis RHB Sekuritas Indonesia David Chong dalam riset tertanggal 24 Juni 2026 memangkas target harga saham BBNI menjadi Rp 4.560 per saham dari sebelumnya Rp 5.250, namun tetap mempertahankan rekomendasi buy. Target baru itu masih mencerminkan potensi kenaikan sekitar 33% dari harga saat ini, dengan tambahan estimasi dividend yield sekitar 11% pada 2026.

Pada Jumat, 26 Juni 2026 hingga penutupan sesi siang, saham BBNI turun 3,58% ke Rp 3.230 per saham. David menilai saham BBNI tetap menarik meski tekanan terhadap net interest margin, atau NIM, diperkirakan meningkat pada semester II 2026 setelah langkah Bank Indonesia untuk menopang rupiah.

Menurut dia, BBNI memiliki sejumlah penyangga, termasuk neraca yang likuid, cadangan pencadangan yang kuat, serta valuasi dan dividend yield yang dinilai telah mencerminkan sebagian besar sentimen negatif. RHB Sekuritas juga merevisi turun proyeksi laba bersih 2026 hingga 2028 masing-masing sebesar 3%, 6%, dan 7%, terutama karena asumsi NIM yang lebih rendah serta kenaikan asumsi tingkat bebas risiko menjadi 7%.

Dorongan kredit dan ketahanan likuiditas

Kinerja penyaluran kredit BBNI masih menunjukkan tren yang kuat. Hingga lima bulan pertama 2026, pertumbuhan kredit tahunan bank mencapai sekitar 16%, jauh di atas target manajemen di kisaran 8% hingga 10%, dengan pipeline kredit yang disebut masih terjaga terutama dari segmen korporasi dan komersial hingga akhir tahun.

Di segmen ritel, BBNI lebih berhati-hati pada pembiayaan kredit pemilikan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi portofolio kredit personal dinilai masih dapat menopang pertumbuhan. Di tengah kenaikan biaya dana, bank juga mulai mengalihkan fokus ke segmen kredit berimbal hasil lebih tinggi, khususnya nasabah kelas menengah.

RHB Sekuritas mencatat sekitar 22% portofolio kredit BBNI menggunakan suku bunga mengambang, 59% managed rate, dan sisanya berbunga tetap. Struktur itu membuat bank tidak mudah sepenuhnya meneruskan kenaikan suku bunga kepada debitur karena persaingan memperoleh nasabah berkualitas makin ketat.

Dari sisi pendanaan, BBNI lebih agresif menghimpun dana sejak awal tahun. Pertumbuhan dana murah, atau CASA, dan deposito membuat rasio loan to deposit ratio turun menjadi 88,4% dari 93,3% setahun sebelumnya, sebuah langkah yang dinilai memperkuat likuiditas sebelum persaingan dana menjadi lebih ketat.

RHB Sekuritas memperkirakan tekanan terhadap NIM akan semakin terasa pada paruh kedua 2026 seiring meningkatnya biaya pendanaan, meski BBNI masih diyakini dapat mencapai target NIM konsolidasi 3,5% hingga 3,8%, kemungkinan di batas bawah kisaran itu. Kualitas aset juga masih dinilai solid, walau ada kenaikan rasio kredit bermasalah pada segmen KPR berplafon kecil yang didominasi debitur berpenghasilan rendah, dengan manajemen terus memperkuat pencadangan untuk menghadapi potensi volatilitas ke depan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang prospek sektor perbankan hingga tahun fiskal 2026, kami membahas penguatan saham bank-bank besar di BEI serta pandangan RHB Sekuritas yang tetap overweight karena pertumbuhan laba dinilai masih resilien dan ditopang ekspansi kredit. Kami juga menyoroti pergeseran fokus industri dari risiko kredit ke tekanan net interest margin (NIM) akibat suku bunga BI dan likuiditas yang ketat, termasuk bank mana yang lebih tahan serta peran pendapatan non-bunga sebagai penopang kinerja.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.