UATAS dan AFPI dorong literasi keuangan Gen Z di tengah perluasan akses finansial digital

UATAS dan AFPI dorong literasi keuangan Gen Z di tengah perluasan akses finansial digital
Literasi keuangan Gen Z

Perluasan layanan keuangan digital di Indonesia memperbesar peluang pertumbuhan fintech sekaligus meningkatkan risiko perilaku konsumtif di kalangan generasi Z. Kelompok ini berjumlah sekitar 75 juta orang atau hampir 28% dari populasi nasional pada 2025, sehingga kebiasaan finansialnya dinilai akan memengaruhi kesehatan keuangan nasional ke depan.

Sorotan

  • UATAS dan AFPI menggelar edukasi literasi keuangan di Universitas Islam Malang pada 24 Juni 2026, menekankan pentingnya pengelolaan keuangan bagi Gen Z.
  • Digitalisasi finansial meningkatkan risiko konsumsi impulsif di kalangan mahasiswa, sehingga diperlukan pemahaman tentang anggaran, prioritas pengeluaran, dan evaluasi keuangan rutin.
  • Industri fintech melihat perluasan akses digital sebagai peluang pertumbuhan, namun menyoroti perlunya edukasi pinjaman digital agar tidak memicu konsumsi berlebihan dan potensi gagal bayar.

Edukasi kampus dan risiko konsumsi digital

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, PT Plus Ultra Abadi (UATAS) bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menekankan pentingnya literasi keuangan bagi mahasiswa melalui kegiatan Pindar Mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang, Rabu (24/6/2026). Direktur Pengembangan Bisnis UATAS, Shintya Maulida, mengatakan kemampuan mengelola keuangan menjadi keterampilan penting bagi generasi muda, khususnya mahasiswa yang sebagian besar berasal dari kelompok Gen Z.

Menurut Shintya, digitalisasi menghadirkan tantangan baru dalam pengelolaan keuangan, mulai dari fear of missing out, kemudahan transaksi digital, hingga impulse buying. Ia menilai promosi besar-besaran, flash sale, dan kemudahan pembayaran digital dapat mendorong keputusan belanja tanpa perencanaan jika tidak diimbangi pemahaman keuangan yang memadai.

UATAS menilai kesehatan finansial tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan mengatur pengeluaran, menetapkan prioritas, dan menyiapkan kebutuhan jangka panjang. Karena itu, generasi muda didorong membangun kebiasaan membuat anggaran, membatasi pengeluaran, dan mengevaluasi kondisi keuangan secara rutin.

Dampak bagi industri fintech dan perilaku pinjaman

Besarnya populasi Gen Z membuat perilaku finansial kelompok ini menjadi faktor penting bagi arah literasi keuangan dan kualitas kesehatan keuangan nasional. Bagi industri fintech, perluasan akses finansial digital membuka ruang pertumbuhan, tetapi juga menuntut penguatan edukasi agar adopsi layanan tidak berujung pada peningkatan konsumsi yang tidak sehat.

Selain pengelolaan keuangan pribadi, perusahaan juga mengingatkan pentingnya penggunaan pinjaman digital secara bertanggung jawab. Masyarakat perlu memastikan pinjaman dipakai sesuai kebutuhan dan kemampuan membayar, terutama ketika dana digunakan untuk kegiatan produktif atau usaha.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kolaborasi strategis Pegadaian dan Pupuk Kalimantan Timur, kami membahas penandatanganan nota kesepahaman yang berlaku hingga 2029 untuk memperluas program literasi keuangan, investasi, dan pengelolaan aset bagi karyawan. Kerja sama ini juga mencakup akses produk seperti Tabungan Emas serta pembiayaan produktif, dengan tujuan mendorong ketahanan finansial dan budaya pengelolaan uang yang lebih sehat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.