Petugas Sensus Ekonomi 2026 hadapi salah persepsi bantuan di Bekasi

Petugas Sensus Ekonomi 2026 hadapi salah persepsi bantuan di Bekasi
Sensus Bekasi & persepsi warga

Pendataan Sensus Ekonomi 2026 di Desa Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, menunjukkan warga desa cenderung terbuka dan antusias saat didatangi petugas meski akses ke rumah-rumah mereka tidak mudah. Di lapangan, petugas masih menemukan anggapan bahwa pendataan berkaitan dengan bantuan pemerintah, di tengah proses wawancara yang juga mencakup usaha, pendapatan, aset, dan kondisi bangunan.

Sorotan

  • Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Bojongmangu, Bekasi menghadapi persepsi keliru warga yang mengaitkan sensus dengan penyaluran bantuan pemerintah.
  • Tantangan lapangan utama meliputi akses ke rumah di tengah sawah dan area sempit, terutama saat musim hujan, serta penyesuaian jadwal dengan aktivitas petani.
  • Rata-rata proses pendataan membutuhkan 20–30 menit per responden, mengharuskan kunjungan berulang dan penggunaan peta digital serta formulir digital untuk validasi data.

Tantangan lapangan dan persepsi warga

Seperti dilaporkan Kompas.com, petugas Sensus Ekonomi 2026 di Desa Bojongmangu, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, menyusuri jalan setapak dan jalur sempit untuk mendata warga, sambil menjelaskan bahwa sensus ekonomi tidak terkait dengan penyaluran bantuan pemerintah.

Dewi Santika, petugas sensus berusia 24 tahun, mengatakan sebagian warga menyampaikan bahwa mereka sudah pernah didata tetapi belum juga menerima bantuan. Menurut dia, kondisi itu muncul bersamaan dengan antusiasme warga desa yang justru meminta agar rumah mereka segera didata karena ingin terdaftar.

Dewi, yang menjadi petugas Badan Pusat Statistik sejak 2020, menilai warga di kawasan desa umumnya lebih menerima kedatangan petugas dibandingkan masyarakat di wilayah perkotaan atau permukiman elite. Penolakan disebut jarang terjadi, sementara tantangan terbesar justru berasal dari jarak tempuh menuju rumah warga yang berada di tengah sawah, kawasan pepohonan, atau lokasi yang hanya dapat dilalui lewat jalan sempit, terutama saat musim hujan.

Proses pendataan dan implikasi operasional

Selain kendala akses, petugas juga menyesuaikan jadwal dengan aktivitas warga yang mayoritas bekerja sebagai petani. Pada pagi hari banyak warga sudah berada di sawah, sedangkan pada sore hari mereka kembali sibuk dengan pekerjaan lain, sehingga petugas kerap harus mendatangi rumah yang sama hingga tiga kali.

Dalam setiap kunjungan, petugas mengajukan pertanyaan mengenai kondisi ekonomi keluarga, jenis usaha, pendapatan harian, bulanan, dan tahunan, serta kepemilikan aset. Petugas juga mencocokkan posisi bangunan melalui peta digital, memotret bagian depan rumah, atap, dinding, hingga bagian dalam bangunan, lalu meminta responden menandatangani formulir digital sebelum menempelkan stiker identitas Sensus Ekonomi 2026.

Menurut Dewi, seluruh rangkaian pendataan itu rata-rata memerlukan waktu sekitar 20 hingga 30 menit untuk setiap responden. Gambaran ini menunjukkan pelaksanaan sensus di wilayah pedesaan tidak hanya bergantung pada kesiapan data, tetapi juga pada intensitas kunjungan lapangan, komunikasi kepada warga, dan kemampuan petugas menjangkau area dengan akses terbatas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tantangan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, kami menyoroti hambatan pendataan di kawasan perumahan elite di Kabupaten Bekasi. Saat itu, sebagian warga cenderung enggan memberikan data ekonomi secara lengkap karena khawatir pencatatan aset dapat berdampak pada pajak, sehingga petugas perlu membangun kepercayaan dan menjelaskan tujuan sensus agar data yang dihimpun tetap akurat sebagai dasar kebijakan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.