AAUI dorong pengembangan produk asuransi kesehatan yang lebih terjangkau di Indonesia
Perluasan perlindungan kesehatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah menjadi fokus industri asuransi umum di tengah keterbatasan akses layanan dan kemampuan membayar biaya tambahan. AAUI menilai penyesuaian produk, penguatan layanan preventif, dan koordinasi manfaat dengan BPJS Kesehatan menjadi kunci agar cakupan proteksi lebih luas dan efisien.
Sorotan
- AAUI mendorong pengembangan produk asuransi kesehatan mikro dengan premi rendah, manfaat jelas, dan proses klaim mudah untuk menjangkau kelompok berpenghasilan rendah.
- Otoritas Jasa Keuangan membentuk Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan Kesehatan (KAPJ) yang melibatkan OJK, BPJS Kesehatan, Kementerian Kesehatan, dan asosiasi industri untuk mendukung sinergi pengembangan produk kesehatan.
- KAPJ diharapkan memperjelas pembagian manfaat, mempercepat layanan rumah sakit, menekan biaya peserta, serta memperkuat ekosistem asuransi dan kesehatan nasional.
Strategi produk dan koordinasi manfaat kesehatan
Seperti dilaporkan KONTAN, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mendorong perusahaan asuransi menyiapkan strategi untuk menghadirkan produk kesehatan yang lebih terjangkau, sederhana, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Ketua Umum AAUI Budi Herawan menyatakan kelompok berpenghasilan rendah umumnya masih menghadapi keterbatasan dalam deteksi dini, akses layanan kesehatan, serta kemampuan membayar biaya kesehatan tambahan.AAUI menyebut ada tiga pendekatan utama untuk memperluas jangkauan perlindungan kesehatan. Pertama, perusahaan dapat mengembangkan produk mikro atau produk sederhana dengan premi lebih rendah, manfaat yang jelas, dan proses klaim yang mudah. Kedua, industri didorong menghadirkan produk yang bersifat komplementer terhadap BPJS Kesehatan atau Jaminan Kesehatan Nasional, bukan bersaing dengan program tersebut. Ketiga, perusahaan perlu memperkuat layanan preventif melalui edukasi kesehatan, telemedicine, pemeriksaan kesehatan dasar, serta kerja sama dengan fasilitas kesehatan.
Di saat yang sama, Otoritas Jasa Keuangan telah membentuk Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan Kesehatan, atau KAPJ, untuk mendukung pengembangan produk kesehatan ke depan. Forum ini terdiri dari 11 anggota dari OJK, Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, serta sejumlah asosiasi kesehatan dan asuransi.
Dampak bagi industri asuransi dan layanan rumah sakit
Melalui koordinasi tersebut, pembagian manfaat antara BPJS Kesehatan dan asuransi tambahan diharapkan menjadi lebih jelas sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat lebih optimal dan biaya yang ditanggung langsung oleh peserta bisa ditekan. Dari sisi industri, KAPJ dinilai dapat membantu membangun ekosistem yang lebih tertata, termasuk kejelasan ruang lingkup manfaat, mekanisme klaim, data layanan, dan pengendalian biaya kesehatan bersama rumah sakit.Bagi rumah sakit, koordinasi ini juga diharapkan memperjelas alur pembayaran, mengurangi duplikasi klaim, dan mempercepat pelayanan kepada pasien. AAUI menilai pengembangan produk kesehatan ke depan tidak hanya berfokus pada pembayaran klaim, tetapi juga pada pencegahan, deteksi dini, koordinasi manfaat, efisiensi biaya, dan peningkatan akses layanan kesehatan.
Menurut Budi, jika KAPJ berjalan baik, BPJS Kesehatan, perusahaan asuransi, rumah sakit, regulator, dan masyarakat berada dalam ekosistem yang lebih terintegrasi. Kondisi itu dinilai dapat memperkuat perlindungan kesehatan sekaligus membuka ruang bagi produk asuransi umum yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar berpenghasilan rendah.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang potensi lonjakan klaim asuransi kesehatan pada musim pancaroba, AAUI menyoroti meningkatnya risiko penyakit musiman seperti DBD, tifoid, dan ISPA yang cenderung mendorong kenaikan frekuensi klaim. Namun, AAUI juga menekankan bahwa nilai klaim terbesar tetap didominasi penyakit kronis berbiaya tinggi seperti jantung, kanker, stroke, dan gagal ginjal, sehingga risiko musiman lebih perlu dipantau dari sisi volume klaim.
Berita Japan Terbaru
- Forex
- Crypto