Bank perketat mitigasi risiko saat NPL UMKM naik pada Mei 2026

Bank perketat mitigasi risiko saat NPL UMKM naik pada Mei 2026
Bank waspada NPL UMKM

Tekanan pada kualitas kredit usaha mikro, kecil, dan menengah kembali terlihat seiring rasio kredit bermasalah segmen ini meningkat pada Mei 2026. Di saat yang sama, pertumbuhan kredit UMKM mulai membaik meski masih terbatas dan belum merata di seluruh kategori usaha.

Sorotan

  • Rasio non-performing loan (NPL) UMKM naik menjadi 4,68% pada Mei 2026 dari 4,62% di April, didorong lemahnya daya beli dan tekanan arus kas.
  • Kenaikan BI Rate ke 5,75% pada Juni 2026 meningkatkan cost of fund, berdampak pada bunga kredit dan memperbesar risiko UMKM margin tipis.
  • Bank Mandiri catat rasio NPL kredit mikro 1,6% dengan portofolio kredit mikro Rp103 triliun per Mei 2026, target tumbuh 8,22% di 2026 melalui prudent underwriting dan monitoring ketat.

Tren NPL dan strategi bank

KONTAN melaporkan, Bank Indonesia mencatat rasio non-performing loan UMKM naik menjadi 4,68% pada Mei 2026 dari 4,62% pada April 2026. Di sisi lain, kredit UMKM tumbuh 0,6% secara tahunan hingga Mei 2026, lebih tinggi dari pertumbuhan 0,2% pada April, dengan penopang utama berasal dari kredit usaha menengah yang naik 1,8%, sementara kredit mikro tumbuh 0,6% dan kredit usaha kecil masih terkontraksi 0,3%.

Berdasarkan jenis penggunaan, ekspansi kredit UMKM masih ditopang kredit investasi yang melonjak 12,5% secara tahunan. Sebaliknya, kredit modal kerja masih terkontraksi 4,5%, menunjukkan pemulihan pembiayaan operasional pelaku usaha belum merata.

Head of Research and Product Development LPPI Trioksa Siahaan mengatakan kenaikan NPL UMKM dipengaruhi lemahnya daya beli masyarakat, tekanan arus kas pelaku usaha akibat tingginya biaya dana, berakhirnya relaksasi kredit pascapandemi, serta makin selektifnya penyaluran kredit oleh perbankan. Menurut dia, langkah peredaman yang paling efektif meliputi penguatan early warning system, restrukturisasi selektif untuk debitur yang masih prospektif, peningkatan pendampingan usaha dan literasi keuangan, serta penguatan penjaminan kredit dan akses pasar.

Trioksa memperkirakan rasio NPL UMKM masih berpotensi naik terbatas hingga mendekati 5% pada akhir 2026. Meski begitu, kredit UMKM diperkirakan tetap tumbuh sekitar 7% hingga 9% karena bank masih menyalurkan pembiayaan secara selektif dengan lebih mengutamakan kualitas aset daripada pertumbuhan agresif.

Dampak kebijakan dan ketahanan portofolio

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Myrdal Gunarto menilai kenaikan NPL UMKM dipicu kombinasi tekanan makroekonomi dan efek matematis dari lambatnya pertumbuhan kredit baru. Kenaikan BI Rate menjadi 5,75% pada pertengahan Juni 2026, menurutnya, meningkatkan cost of fund perbankan yang bertahap diteruskan ke bunga kredit, kondisi yang paling terasa bagi UMKM dengan margin usaha tipis.

Ia menambahkan UMKM juga menghadapi kenaikan harga bahan baku akibat pelemahan nilai tukar rupiah serta penyesuaian daya beli masyarakat. Myrdal menilai mitigasi tidak cukup mengandalkan restrukturisasi pasif, melainkan perlu memperkuat kapasitas bayar debitur melalui stimulus sektor riil, termasuk realisasi program turunan Asta Cita, penyaluran KUR yang telah mencapai Rp96 triliun hingga Mei 2026, kepastian perpanjangan pajak final UMKM 0,5%, serta optimalisasi implementasi POJK Nomor 19 Tahun 2025.

Myrdal memproyeksikan pertumbuhan kredit UMKM tahun ini berada di kisaran 3,1%, didukung harapan membaiknya konsumsi domestik dan percepatan belanja pemerintah pada semester II. Sementara rasio NPL UMKM diperkirakan mencapai puncaknya pada pertengahan tahun sebelum melandai menuju sekitar 4,2% pada akhir 2026, ditopang pemulihan omzet usaha dan langkah write-off dengan pencadangan memadai.

Di tingkat bank, SVP Micro Development and Agent Banking Bank Mandiri Bayu Trisno Arief Setiawan mengatakan rasio NPL kredit mikro perseroan hingga Mei 2026 tercatat 1,6%, dengan portofolio kredit mikro melampaui Rp103 triliun. Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit mikro 8,22% secara tahunan pada 2026 sambil mempertahankan rasio NPL di kisaran 1,6% melalui underwriting prudent, penguatan early warning system, monitoring debitur, restrukturisasi selektif, optimalisasi collection dan recovery, serta evaluasi portofolio berkala.

Bank Sahabat Sampoerna juga menyatakan fokus menjaga kualitas aset di tengah tekanan sektor UMKM. Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra mengatakan hingga akhir Maret 2026, NPL gross perseroan berada di level 4,51%, turun dari 4,81% pada Maret 2025, sementara NPL nett naik ke 2,70% dari 2,64%; sekitar 59% portofolio kredit sebesar Rp11 triliun masih tersalurkan ke sektor UMKM, termasuk melalui kemitraan digital dengan lebih dari 50 fintech, koperasi, multifinance, dan institusi keuangan lokal.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang dampak kenaikan BI Rate ke 5,75% pada investasi dana pensiun, kami mengulas bagaimana perubahan suku bunga mendorong penyesuaian strategi alokasi aset, khususnya pada portofolio pendapatan tetap dan pasar uang. Kami juga menyoroti bahwa di tengah volatilitas pasar, penempatan dana pensiun masih didominasi instrumen berisiko rendah seperti Surat Berharga Negara, sambil menjaga keseimbangan antara imbal hasil dan profil risiko jangka panjang.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.