Industri Indonesia hadapi tekanan daya saing, harga gas dinilai bukan faktor tunggal
Tekanan terhadap daya saing industri nasional dinilai berasal dari kombinasi pelemahan permintaan domestik, kurs rupiah, dan biaya bahan baku, bukan semata-mata dari harga gas. Kondisi itu juga disebut memperbesar risiko efisiensi operasional yang dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor padat energi.
Sorotan
- Harga energi yang naik akibat geopolitik global, pelemahan daya beli, dan fluktuasi rupiah terhadap dolar U.S. bersamaan menekan biaya produksi industri Indonesia.
- Penurunan permintaan menyebabkan penurunan produksi dan mendorong efisiensi yang dapat memicu PHK di sektor manufaktur nasional.
- Industri granit, keramik, dan tekstil secara khusus meminta dukungan kebijakan pemerintah guna mengatasi tekanan biaya impor dan pasar yang lemah.
Faktor biaya dan permintaan menekan industri
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan Said Iqbal mengatakan kekhawatiran pelaku industri, terutama sektor yang bergantung pada energi termasuk gas, memang perlu mendapat perhatian. Ia menilai kenaikan harga energi merupakan dampak yang tidak terhindarkan dari dinamika geopolitik global, namun bukan satu-satunya faktor yang mendorong kenaikan biaya produksi.Menurut Said, pelemahan daya beli masyarakat ikut menekan penjualan barang sehingga produksi menurun. Penurunan produksi itu pada akhirnya mendorong langkah efisiensi perusahaan yang dapat berujung pada PHK.
Ia juga menyoroti fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar U.S. sebagai penyebab tambahan naiknya ongkos produksi, khususnya bagi perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor. Dalam kondisi tersebut, perusahaan membeli input dengan dolar U.S., sementara hasil produksinya dijual dalam rupiah, sehingga margin usaha tertekan.
Sektor granit, keramik, dan tekstil cari dukungan
Pemerintah bersama para pemangku kepentingan kini tengah mencari solusi bagi industri yang menghadapi tekanan paling besar. Said menyebut industri granit, keramik, dan tekstil termasuk sektor yang belakangan meminta dukungan kebijakan khusus.Gambaran ini menunjukkan tantangan industri tidak hanya terkait tarif energi, tetapi juga berkaitan dengan permintaan pasar dan struktur biaya impor. Bagi sektor manufaktur nasional, respons kebijakan akan menentukan kemampuan perusahaan menjaga produksi, menahan tekanan biaya, dan membatasi risiko pengurangan tenaga kerja.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang langkah mitigasi PHK di sektor industri, kami menyoroti kombinasi tekanan dari konflik geopolitik, pelemahan daya beli, melemahnya rupiah, dan relokasi produksi yang mendorong biaya naik dan volume produksi turun. Kami juga mencatat pemerintah memverifikasi data PHK yang beredar dan menjalankan upaya mitigasi agar pemutusan hubungan kerja tidak meluas, dengan fokus pada pemetaan sektor berisiko serta perlindungan hak pekerja.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto