Bank besar Indonesia diproyeksikan catat kinerja semester I, Himbara unggul dan BBCA jadi pilihan defensif

Bank besar Indonesia diproyeksikan catat kinerja semester I, Himbara unggul dan BBCA jadi pilihan defensif
Prospek bank besar 2026

Prospek kinerja bank-bank berkapitalisasi besar pada semester I-2026 diproyeksikan tetap positif seiring pertumbuhan kredit yang masih kuat di kelompok bank milik negara. Di saat yang sama, BBCA dinilai mempertahankan daya tarik sebagai saham defensif karena strategi kredit yang lebih konservatif dan struktur pendanaan yang kuat.

Sorotan

  • Per Mei 2026, kredit Bank Mandiri tumbuh 20,56% yoy dan BNI naik 24,55% yoy menjadi Rp 940,88 triliun, menopang pertumbuhan laba Himbara.
  • Kredit BBCA hanya tumbuh 4,85% yoy hingga Mei 2026, namun pendapatan berbasis komisi tetap kuat didorong ekosistem transaksi digital.
  • Mirae Asset Sekuritas rekomendasi accumulative buy untuk bank besar, target harga BMRI Rp 5.600, BBCA Rp 7.900, BBNI Rp 4.220, BBRI Rp 3.450 per saham.

Proyeksi kredit dan laba semester I

Seperti dilaporkan KONTAN, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai bank-bank Himbara masih menjadi motor utama pembiayaan sektor riil dan korporasi pada paruh pertama 2026. Penilaian itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap melaju dua digit di sejumlah bank besar pelat merah.

Per Mei 2026, pertumbuhan kredit PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencapai 20,56% secara tahunan. Pada periode yang sama, kredit PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tumbuh 24,55% yoy menjadi Rp 940,88 triliun.

Nafan mengatakan ekspansi kredit tersebut mampu dikonversi menjadi pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income yang solid, sehingga menopang prospek laba emiten perbankan milik negara. Menurut dia, laju itu menegaskan peran Himbara sebagai penopang utama pembiayaan sektor riil dan korporasi.

Berbeda dengan Himbara, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan pertumbuhan kredit yang lebih moderat. Hingga Mei 2026, kredit BBCA tumbuh sekitar 4,85% yoy, masih di bawah target manajemen sebesar 8% sampai 10% untuk sepanjang tahun.

Nafan menilai perlambatan tersebut merupakan konsekuensi dari strategi konservatif BBCA dalam menjaga kualitas aset. Dampaknya, pertumbuhan pendapatan bunga bersih cenderung datar, namun kondisi itu dikompensasi oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi yang tetap kuat, ditopang ekosistem transaksi digital.

Implikasi pasar dan rekomendasi saham bank

Di pasar saham, posisi BBCA sebagai salah satu saham safe haven sektor perbankan dinilai masih ditopang oleh struktur pendanaan yang kuat. Rasio dana murah atau CASA yang tinggi membuat margin bunga bersih tetap terjaga di tengah suku bunga yang masih relatif tinggi.

Untuk paruh kedua 2026, Nafan melihat stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah kinerja sektor perbankan. Pergerakan rupiah mempengaruhi biaya dana, terutama bagi bank dengan komposisi dana murah yang lebih rendah.

Selain itu, meredanya sentimen rebalancing indeks MSCI diperkirakan dapat mengurangi tekanan jual investor asing terhadap saham-saham bank berkapitalisasi besar. Kondisi itu membuka peluang penguatan harga saham, tetapi pasar tetap perlu mencermati perkembangan kualitas aset dan biaya kredit.

Ia menambahkan, tren pencadangan pada kuartal II menjadi penentu apakah pertumbuhan kredit yang agresif, khususnya di Himbara, benar-benar dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba bersih yang berkelanjutan tanpa lonjakan kredit bermasalah. Dari sisi investasi, Mirae Asset Sekuritas masih memberikan rekomendasi accumulative buy untuk saham-saham bank besar.

BMRI menjadi pilihan utama dengan target harga Rp 5.600 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 41,41%. Target harga untuk BBCA ditetapkan Rp 7.900 per saham, BBNI Rp 4.220 per saham, dan BBRI Rp 3.450 per saham.

Penempatan dana SAL pemerintah di bank-bank Himbara menjadi sorotan kami sebelumnya karena langkah ini menambah likuiditas dan memperluas ruang penyaluran kredit, termasuk bagi Bank Mandiri. Kami juga mencatat dana tersebut berpotensi menekan biaya dana sekaligus memperkuat struktur pendanaan lewat fokus CASA dan digitalisasi, dengan penyaluran kredit yang tetap selektif—terutama ke segmen UMKM—untuk menjaga kualitas aset. Skema penempatan jangka panjang dan tenor pendek 3–4 bulan disebut ditujukan untuk membantu stabilitas pendanaan dan kredit dalam jangka dekat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.