Bank Mandiri andalkan sektor produktif untuk topang pertumbuhan kredit 2026

Bank Mandiri andalkan sektor produktif untuk topang pertumbuhan kredit 2026
Mandiri andalkan kredit produktif

Di tengah gejolak global, Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit hingga akhir 2026 tetap ditopang sektor-sektor produktif, termasuk hilirisasi, UMKM, dan aktivitas usaha yang mendorong investasi serta penciptaan lapangan kerja. Hingga Mei 2026, bank ini membukukan penyaluran kredit Rp 1.580 triliun, naik 20,6% secara tahunan.

Sorotan

  • Bank Mandiri fokus menyalurkan kredit secara selektif ke sektor produktif dengan prospek pertumbuhan positif hingga akhir 2026.
  • Kredit perbankan nasional tumbuh 11,51% secara tahunan pada Mei 2026, didorong investasi 21,95%, modal kerja 8,09%, konsumsi 5,89%.
  • Bank Indonesia mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit 2026 di kisaran 8%-12%, dengan pertambangan, industri pengolahan, keuangan, real estat, dan transportasi sebagai pendorong utama.

Strategi penyaluran kredit hingga akhir 2026

Seperti dilaporkan KONTAN, Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan perseroan terus mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan menyalurkan pembiayaan secara selektif ke sektor-sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan positif dan mampu memberi efek berganda bagi perekonomian nasional.

Ia mengatakan Bank Mandiri tidak secara khusus menghindari sektor tertentu dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Setiap keputusan pembiayaan, kata dia, dilakukan dengan mempertimbangkan profil risiko, kelayakan usaha, tata kelola, serta kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya.

Dukungan tren kredit perbankan nasional

Bank Indonesia mencatat kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan pada Mei 2026, meningkat dari 9,98% pada April 2026. Pertumbuhan itu ditopang kredit investasi yang naik 21,95% secara tahunan, kredit modal kerja 8,09%, dan kredit konsumsi 5,89%.

BI juga masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang 2026 di kisaran 8% hingga 12%. Data bank sentral menunjukkan pertumbuhan kredit modal kerja terutama ditopang sektor pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan, sementara kredit investasi didorong sektor jasa keuangan, real estat dan jasa perusahaan, serta pengangkutan dan komunikasi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit perbankan yang kembali dua digit pada Mei 2026, kami menyoroti bahwa kenaikan kredit 11,51% (yoy) diikuti level undisbursed loan yang masih tinggi. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha mengeksekusi investasi di tengah suku bunga yang masih tinggi dan ketidakpastian ekonomi, meski likuiditas perbankan dinilai tetap kuat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.