Perbankan Indonesia kelola undisbursed loan tinggi di tengah pertumbuhan kredit

Perbankan Indonesia kelola undisbursed loan tinggi di tengah pertumbuhan kredit
Undisbursed loan masih tinggi

Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia kembali mencetak laju dua digit pada Mei 2026, tetapi fasilitas pinjaman yang belum ditarik nasabah tetap berada di level tinggi. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian dunia usaha dalam mengeksekusi investasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan biaya dana yang masih mahal.

Sorotan

  • Penyaluran kredit perbankan Indonesia tumbuh 11,51% yoy pada Mei 2026, sementara undisbursed loan mencapai Rp 2.576 triliun atau 22,41% dari plafon kredit.
  • BCA mencatat pertumbuhan kredit 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun dan kenaikan undisbursed loan 6,61% yoy menjadi Rp 360,59 triliun hingga Mei 2026.
  • Kondisi moneter ketat dan suku bunga tinggi menahan penyerapan kredit sektor riil, dengan undisbursed loan tetap tinggi karena pelaku usaha menunda investasi.

Tren kredit dan fasilitas belum ditarik

KONTAN Indonesia melaporkan, data Bank Indonesia menunjukkan penyaluran kredit industri perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan pada Mei 2026, menjadi pertumbuhan dua digit pertama sejak awal tahun. Pada saat yang sama, undisbursed loan perbankan mencapai Rp 2.576 triliun, setara 22,41% dari plafon kredit yang tersedia.

Di tingkat bank, Bank Central Asia (BCA) mencatat penyaluran kredit hingga Mei 2026 naik 4,85% secara tahunan menjadi Rp 969,09 triliun. Fasilitas kredit dengan komitmen pencairan yang belum ditarik mencapai Rp 360,59 triliun, naik 6,61% secara tahunan.

EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan perseroan terus mengelola fasilitas pembiayaan yang belum ditarik secara pruden. BCA juga tetap optimistis target pertumbuhan kredit 8% sampai 10% hingga akhir tahun masih dapat dicapai, ditopang likuiditas yang memadai dan komitmen menyalurkan kredit berkualitas dengan disiplin manajemen risiko.

CIMB Niaga mencatat pertumbuhan kredit 8,61% secara tahunan menjadi Rp 171,08 triliun. Berbeda dengan BCA, fasilitas kredit dengan komitmen pencairan yang belum ditarik di bank ini turun 1,11% secara tahunan menjadi Rp 14,79 triliun, meski Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut masih ada sedikit kenaikan undisbursed loan karena nasabah menunda investasi dan memilih bersikap wait and see.

Dampak ketidakpastian pada permintaan kredit

Lani menilai kondisi penundaan investasi ini masih bertahan setidaknya hingga kuartal III-2026. Menurutnya, industri berharap ada perbaikan menjelang akhir tahun, tetapi arah situasi masih sulit diprediksi di tengah ketidakpastian saat ini.

Guru besar ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi menjelaskan banyak debitur korporasi mengajukan fasilitas kredit dalam bentuk revolving loan atau line of credit untuk menjaga likuiditas darurat maupun modal kerja musiman. Fasilitas itu memang disiapkan untuk digunakan saat arus kas perusahaan membutuhkan, bukan untuk langsung ditarik seluruhnya.

Ia menambahkan, tren kebijakan moneter ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar membuat suku bunga kredit belum turun agresif. Dengan biaya dana yang masih tinggi, dunia usaha menjadi lebih selektif dan hanya menarik pinjaman ketika imbal hasil proyek dinilai mampu menutup beban bunga.

Rahma juga menilai besarnya undisbursed loan menunjukkan likuiditas dan kapasitas perbankan untuk menyalurkan pembiayaan masih sangat tebal. Namun ancaman inflasi pangan global akibat gelombang panas di Eropa dan tingginya suku bunga global tetap menjadi tantangan bagi ekonomi domestik, sehingga penyerapan kredit oleh sektor riil belum sepenuhnya pulih.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang optimalisasi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) oleh OJK per 1 Juli 2026, kami membahas percepatan pembaruan data kredit lunas menjadi maksimal tiga hari kerja serta pengecualian catatan kredit di bawah Rp1 juta agar informasi debitur lebih relevan. Perubahan ini ditujukan untuk memperlancar akses pembiayaan, termasuk bagi program 3 juta rumah dan UMKM, di saat kinerja perbankan masih ditopang permodalan dan likuiditas yang kuat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.