Adira Finance himpun Rp 2,5 triliun lewat obligasi dan sukuk pada semester I-2026

Adira Finance himpun Rp 2,5 triliun lewat obligasi dan sukuk pada semester I-2026
Adira Finance raih Rp2,5T

Di tengah kebutuhan pendanaan yang tetap aktif di industri multifinance, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk mengumpulkan Rp 2,5 triliun dari penerbitan obligasi dan sukuk pada semester I-2026. Dana itu diarahkan untuk modal kerja pembiayaan, terutama guna mendukung penyaluran pembiayaan konsumen dan menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Sorotan

  • Adira Finance mengumpulkan Rp 2,5 triliun melalui penerbitan Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III sebesar Rp 2 triliun dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan VI Tahap III sebesar Rp 500 miliar pada Februari 2026.
  • Hasil penghimpunan dana digunakan sebagai modal kerja pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan pembiayaan konsumen dan menjaga kesinambungan usaha.
  • Total penerbitan surat utang multifinance hingga Juni 2026 mencapai Rp 12,93 triliun, menurun sekitar 32,3% jika dibandingkan realisasi penuh 2025 sebesar Rp 38,18 triliun.

Rincian penerbitan dan strategi pendanaan

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani mengatakan perusahaan pada Februari 2026 menerbitkan Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III Tahun 2026 dengan jumlah pokok sekitar Rp 2 triliun. Perseroan juga menerbitkan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan VI Tahap III Tahun 2026 dengan nilai dana Rp 500 miliar.

Menurut Gani, hasil penghimpunan dana tersebut digunakan untuk modal kerja pembiayaan. Fokus penggunaannya adalah menopang pembiayaan konsumen sekaligus menjaga laju pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.

Adira Finance juga masih membuka peluang untuk kembali menerbitkan obligasi pada tahun ini sebagai bagian dari strategi pendanaan yang terdiversifikasi. Setelah penerbitan pada Februari 2026, perusahaan tetap mencermati kondisi pasar, kebutuhan pendanaan ke depan, dan momentum yang dinilai paling tepat untuk aksi berikutnya.

Ia menambahkan besaran penerbitan selanjutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan, kondisi likuiditas, serta profil jatuh tempo kewajiban perusahaan.

Tren pasar surat utang multifinance

Pada saat yang sama, laju penerbitan surat utang sektor multifinance pada tahun ini disebut melambat dibandingkan tahun sebelumnya. PT Pemeringkat Efek Indonesia, Pefindo, mencatat nilai penerbitan surat utang multifinance hingga Juni 2026 mencapai Rp 12,93 triliun.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan angka itu masih jauh di bawah realisasi penuh 2025 yang sebesar Rp 38,18 triliun. Jika capaian semester I-2026 disetahunkan secara sederhana, nilainya menjadi sekitar Rp 25,86 triliun, atau lebih rendah sekitar 32,3% dibandingkan realisasi penuh 2025.

Kondisi tersebut menunjukkan emiten pembiayaan masih menimbang waktu dan kebutuhan ketika masuk ke pasar utang. Bagi Adira Finance, ruang penerbitan lanjutan tetap terbuka, namun realisasinya bergantung pada likuiditas, kebutuhan bisnis, dan situasi pasar obligasi.

Kenaikan NPF gross BNPL perusahaan pembiayaan per Mei 2026 menjadi 3,44% sempat kami soroti sebagai sinyal tekanan kualitas aset, meski penyaluran BNPL masih tumbuh tinggi secara tahunan. Dalam ulasan tersebut, kami juga mencatat langkah OJK lewat PADK Nomor 2 Tahun 2026 yang memperketat ketentuan debitur dan mendorong penguatan manajemen risiko serta credit scoring agar pertumbuhan pembiayaan lebih sehat dan berkelanjutan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.