Bank Sahabat Sampoerna targetkan pertumbuhan kredit dan DPK hingga akhir 2026

Bank Sahabat Sampoerna targetkan pertumbuhan kredit dan DPK hingga akhir 2026
Target Kredit dan DPK 2026

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, PT Bank Sahabat Sampoerna menyatakan kinerja semester I-2026 tetap sejalan dengan target perseroan dan menatap perbaikan pada paruh kedua tahun ini. Bank ini mengandalkan digitalisasi, kolaborasi dengan fintech dan koperasi, serta penguatan manajemen risiko untuk menjaga pertumbuhan bisnis dan memperluas pembiayaan UMKM.

Sorotan

  • Bank Sahabat Sampoerna mencatat laba bersih Rp 11,86 miliar hingga Mei 2026, naik 17,68% dari Rp 10,08 miliar secara tahunan.
  • Penyaluran kredit turun 5,38% secara tahunan menjadi Rp 10,93 triliun, sementara penghimpunan DPK tumbuh 0,63% menjadi Rp 13,05 triliun.
  • Manajemen optimistis digitalisasi dan kolaborasi ekosistem menopang pertumbuhan kredit dan DPK serta menjaga pembiayaan UMKM hingga akhir 2026.

Kinerja terkini dan dampaknya bagi pembiayaan UMKM

Menurut Kontan, hingga Mei 2026, Bank Sahabat Sampoerna membukukan laba bersih Rp 11,86 miliar, naik 17,68% secara tahunan dari Rp 10,08 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit tercatat Rp 10,93 triliun, turun 5,38% secara tahunan. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga masih tumbuh 0,63% secara tahunan menjadi Rp 13,05 triliun.

Manajemen tetap optimistis penguatan digitalisasi dan kolaborasi ekosistem dapat menjadi modal untuk mempertahankan pertumbuhan kredit dan DPK hingga akhir 2026. Strategi itu juga diarahkan untuk menjaga akses pembiayaan bagi sektor UMKM, yang masih menjadi segmen penting di tengah dinamika ekonomi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan pembiayaan fintech peer-to-peer (P2P) lending per Mei 2026, kami mencatat outstanding pembiayaan mencapai Rp 103,73 triliun dengan pertumbuhan tahunan 25,60% menurut data OJK. Pada periode yang sama, indikator risiko kredit macet agregat (TWP90) membaik menjadi 4,42% dan tetap berada di bawah ambang batas OJK 5%, yang menandakan permintaan kredit digital masih kuat meski laju pertumbuhan mulai lebih moderat. Dinamika ini relevan untuk membaca peta pembiayaan alternatif di luar perbankan, terutama bagi segmen yang membutuhkan akses cepat seperti UMKM.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.